China Banjir Minyak Mentah

Di luar dugaan, impor minyak mentah China mencatatkan rekor pada bulan lalu, kendati kilang-kilang minyak dalam pemeliharaan dan permintaan bahan bakar domestik yang masih menghangat.  Selain itu, hal ini dinilai sebagai langkah mengamankan impor minyak dari Iran.
Dika Irawan | 08 Mei 2019 15:36 WIB
Harga minyak mentah Indonesia turun. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Di luar dugaan, impor minyak mentah China mencatatkan rekor pada bulan lalu, kendati kilang-kilang minyak dalam pemeliharaan dan permintaan bahan bakar domestik yang masih menghangat.  Selain itu, hal ini dinilai sebagai langkah mengamankan impor minyak dari Iran.

Data Administrasi Umum Kepabeanan China menunjukkan, impor minyak mentah China pada bulan lalu mencapai 47,73 juta ton, setara dengan 10,64 juta barel per hari (bph). Jumlah tersebut naik 14% dibandingkan dengan impor minyak mentah Maret 2019 sebanyak 9,26 juta bph. Secara tahunan, impor tersebut naik 11% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. 

China merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia. Negara itu memboyong 164,9 juta ton minyak mentah sepanjang 4 bulan pertama 2019, atau sekitar 10,03 juta bph. Angka itu naik 8,9% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018.

Wang Zhao, Kepala Riset Minyak di Sublime China Information mengatakan bahwa impor minyak mentah Negeri Panda ini melampaui ekspektasi pihaknya. Sebab bila diamati produksi dan margin kilang-kilang minyak domestik sepertinya tidak mendukung volume pembelian tinggi. 

"Kami menilai stok minyak meningkat karena kilang-kilang yang dikelola oleh pemerintah memasok persediaan April dari Iran. Hal ini untuk mengantisipasi dampak dari sanksi Amerika Serikat [kepada Iran]," katanya dikutip dari Reuters, Rabu (8/5/2019). 

Sebagai informasi, AS memperketat sanksi ekspor minyak Iran baru-baru ini. Negeri Paman Sam itu mendesak negara-negara pelanggan minyak Iran mulai berhenti membeli, setelah sebelumnya sempat diberi keringanan. China merupakan salah satu konsumen terbesar minyak Iran. 

Berdasarkan data Refinitiv, impor minyak mentah China dari Iran mencapai 24 juta barel atau 800.000 bph pada April tahun ini. Angka itu merupakan yang tertinggi sejak Agustus tahun lalu. Hal ini karena China dan konsumen minyak Iran lainnya bergegas mengirimkan pesanannya sebelum sanksi AS berlaku Mei tahun ini. 

Setidaknya dua kilang utama, Sinopec Luoyang dan Lanzhou PetroChina ditutup pada bulan lalu untuk mengantisipasi hal tersebut. 

KONSUMSI

Zhou Guoxiao, analis dari JCL, mengatakan bahwa pembelian yang kuat dari kilang independen juga berkontribusi terhadap impor minyak yang besar dalam beberapa bulan terakhir. Sebab pabrik-pabrik tersebut menambah stok menjelang dimulainya kembali produksi setelah masa pemeliharaan. 

Sementara itu, ekspor bahan bakar olahan mencapai 6,17 juta ton bulan lalu, turun 14% dari 7,21 juta ton pada Maret. Namun naik lebih dari 20% dari 5,12 juta ton periode yang sama tahun lalu. 

Cina menghadapi peningkatan surplus bahan bakar domestik karena fasilitas baru, termasuk kilang milik swasta Hengli Petrochemical. Hal itu meningkatkan produksi, sedangkan permintaan pertumbuhan bahan bakar transportasi utama mengecewakan.

Media pemerintah melaporkan, total permintaan bahan bakar olahan pada kuartal pertama naik tipis hanya 0,4% dari tahun sebelumnya Sementara konsumsi bensin naik 3,7% pada periode tersebut. Adapun penggunaan diesel turun 4,1%.

Di sisi lain, menurut data kepabeanan China, total impor gas alam China, termasuk dari Asia Tengah dan Myanmar, mencapa8 7,65 juta ton pada April tahun ini. 

Impor tersebut naik dari 6,82 juta ton pada tahun sebelumnya. Begitu juga naik dari 6,94 juta ton pada Maret lalu. Impor gas untuk 4 bulan pertama meningkat 16,4% pada tahun itu menjadi 31,89 juta ton.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, harga minyak mentah wti

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup