Impor China Turun, Tembaga Bergerak di Zona Merah

Impor tembaga China yang tidak ditempa naik 3,6% pada April dibandingkan dengan bulan sebelumnya seiring dengan meningkatnya permintaan yang membuat momentum puncak konsumsi tembaga pada kuartal kedua tahun ini.
Finna U. Ulfah | 08 Mei 2019 13:37 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Impor tembaga China yang tidak ditempa naik 3,6% pada April dibandingkan dengan bulan sebelumnya seiring dengan meningkatnya permintaan yang membuat momentum puncak konsumsi tembaga pada kuartal kedua tahun ini.

Berdasarkan data Administrasi Umum Kepabeanan China, impor tembaga yang tidak ditempa, termasuk anoda, produk tembaga olahan, dan tembaga setengah jadi mencapai 405.000 ton pada April, lebih besar dibandingkan dengan periode Maret sebesar 391.000 ton.

Walaupun demikian, jumlah impor tembaga China periode April 2019 turun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu melemah 8,4% dari 442.000 ton.

Adapun, tembaga yang kerap disebut logam merah tersebut banyak digunakan dalam bahan konstruksi dan manufaktur. Permintaan terhadap logam tersebut sering kali dianggap sebagai penentu arah laju ekonomi.

Mengutip laporan Reuters, umumnya pada kuartal kedua tiap tahunnya, penggunaan logam China, sebagai konsumen logam terbesar di dunia, meningkat setelah berakhirnya pembatasan anti polusi untuk sektor industri pada musim dingin sehingga aktivitas konstruksi mulai meningkat.

"Namun, aktivitas pabrik di China berkembang dengan kecepatan yang lebih lambat daripada yang diharapkan oleh pasar untuk periode April," mengutip laporan tersebut, Rabu (8/5/2019).

Hal tersebut merujuk kepada indeks pabrik dari Caixin/Markit untuk April di level 50,2, berada di bawah estimasi analis dalam survei Reuters yaitu di level 51. Sementara itu, indeks pabrik pada Maret berada di level 50.8.

Adapun, impor tembaga konsentrat atau bijih tembaga yang diproses sebagian, mencapai 1,66 juta ton pada April, lebih rendah 6,2% dari 1,77 juta ton pada Maret. Namun, jumlah impor tersebut naik 7,1% dari 1,55 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Menanggapi sentimen tersebut, berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (8/5/2019) pukul 12.50 WIB, harga tembaga di bursa Shanghai melemah 0,64% menjadi 47.940 yuan per ton. Sementara itu, harga tembaga di bursa Comex bergerak menguat 0,74% menjadi US$280,60 per pon.

Pada penutupan perdagangan Selasa (6/5/2019), tembaga di bursa London ditutup melemah US$6.180 per ton.
 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, harga komoditas, harga tembaga

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup