Potensi Perang Dagang AS-Uni Eropa Memanas, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah bergerak melemah seiring dengan kekhawatiran pasar terkait dengan pecahnya konflik geopolitik lain, yakni perang dagang antara AS dan Uni Eropa.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 24 April 2019  |  17:50 WIB
Potensi Perang Dagang AS-Uni Eropa Memanas, Rupiah Ditutup Melemah
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Rupiah bergerak melemah seiring dengan kekhawatiran pasar terkait dengan pecahnya konflik geopolitik lain, yakni perang dagang antara AS dan Uni Eropa.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Rabu (24/4/2019) rupiah melanjutkan pelemahannya secara 3 hari berturut-turut dengan ditutup melemah 0,18% menjadi Rp14.105 per dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa rupiah terdepresiasi seiring dengan potensi meletusnya perang dagang terbaru, yaitu antara AS dan Uni Eropa.

"Melalui cuitan di Twitternya, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan kegeramannya kepada Uni Eropa karena anjloknya laba bersih pabrikan motor Harley Davidson pada kuartal I/2019 yang nyaris mencapai 27%," ujar Ibrahim kepada Bisnis.com, Rabu (24/4/2019).

Selain itu, adanya ketidakpastian terkait Brexit setelah kembalinya parlemen dari hari libur Paskah dan membawa putaran baru karena adanya isu rencana untuk menggulingkan Theresa May dari jabatannya sebagai perdana menteri Inggris.

Sentimen-sentimen tersebut membantu dolar AS menguat di hadapan sejumlah mata uang mayor. Belum lagi, ditambah data penjualan rumah baru AS periode Maret yang berhasil mencatatkan pertumbuhan positif yaitu tumbuh 692.000 unit, lebih besar daripada perkiraan sebesar 647.000 unit.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan mata uang mayor lainnya bergerak menguat 0,02% menjadi 97,659. Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak di level Rp14.077 per dolar AS hingga Rp14.138 per dolar AS pada perdagangan esok hari, Kamis (25/4/2019).

Di sisi lain, analis PT Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan bahwa belum pastinya hasil dari pemilihan umum 2019 memberikan tekanan pada pergerakan rupiah.

"Dengan kedua belah pihak masing-masing mengklaim kemenangan di saat hasil pasti belum keluar, pasar tampaknya ragu untuk masuk pasar Indonesia sehingga memberikan tekanan pada rupiah," ujar Faisyal saat dihubungi Bisnis.com, Rabu (24/4/2019).

Saat ini, pasar masih menanti hasil dari publikasi kebijakan moneter oleh Bank Indonesia. Pasar memprediksi Bank Indonesia masih akan mempertahankan suku bunganya di level 6%. Oleh karena itu, dia memperkirakan rupiah akan bergerak di level Rp14.030 hingga Rp14.170 per dolar AS pada perdagangan Kamis (25/4/2019). 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, amerika serikat

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top