Bursa Asia Bergerak Variatif, IHSG Tetap Melemah Hingga Akhir Sesi I

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan IHSG melemah 0,26% atau 16,95 poin ke level 6.453,05 pada akhir sesi I, meskipun sempat dibuka menguat 0,16% atau 10,56 poin ke level 6.480,56.
Bursa Asia Bergerak Variatif, IHSG Tetap Melemah Hingga Akhir Sesi I Aprianto Cahyo Nugroho | 27 Maret 2019 12:46 WIB
Bursa Asia Bergerak Variatif, IHSG Tetap Melemah Hingga Akhir Sesi I
Karyawan beraktivitas di dekat papan penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Senin (4/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan di zona merah hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (27/3/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan IHSG melemah 0,26% atau 16,95 poin ke level 6.453,05 pada akhir sesi I, meskipun sempat dibuka menguat 0,16% atau 10,56 poin ke level 6.480,56.

Adapun pada perdagangan Selasa (26/3), IHSG ditutup menguat 0,92% atau 58,75 poin di level 6.469,99.

Sepanjang perdagangan pagi ini, IHSG bergerak di level 6.450,95 – 6.485,43.

Delapan dari sembilan sektor menetap di zona merah, dipimpin sektor tambang yang melemah 0,67% dan sektor konsumer yang turun 0,56%. Adapun hanya sektor aneka industri yang menguat sebesar 0,04%.

Sebanyak 163 saham menguat, 190 saham melemah, dan 276 saham stagnan dari 629 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) yang masing-masing melemah 4,19% dan 3,48% menjadi penekan utama atas perubahan negatif IHSG hari ini.

BCA Sekuritas memprediksi IHSG berpotensi mengalami profit taking.

Dalam laporannya, tim analis BCA Sekuritas menuliskan, hari ini IHSG akan berfluktuasi menguat meski rawan profit taking. IHSG diprediksi bergerak dalam rentang 6427-6510.   “Hari ini menguji resistance level awal di 6475-6510, tetapi rawan profit taking dan menguji support level awal di 6429-6460,” paparnya, Rabu (27/3/2019).

IHSG melemah di saat bursa saham lainnya di kawasan Asia cenderung bergerak variatif, di antaranya indeks FTSE Straits Times Singapura yang menguat 0,32%, sedangkan indeks FTSE Malay KLCI melemah 0,39%.

Adapun indeks Topix dan Nikkei 225 melemah masing-masing 0,71% dan 0,39%, indeks Hang Seng menguat 0,52%, sedangkan indeks Shanghai Composite menguat 0,65%.

Dilansir Reuters, bursa Asia bergerak variatif hari ini, melepaskan penguatan kecil yang dibuat pada hari sebelumnya karena investor mencoba untuk mencerna perubahan tajam di pasar obligasi AS dan implikasinya terhadap ekonomi AS.

Imbal hasil obligasi Treasury AS bertgenor 10 tahun naik menjadi 2,432% dari level terendah 15 bulan pada Senin sebesar 2,377%, meskipun kurva imbal hasil tetap terbalik, dengan imbal hasil obligasi bertenor tiga bulan mencapai 2,461%, lebih tinggi dari imbal hasil obligasi 10 tahun.

Pembalikan itu membuat banyak investor khawatir karena fenomena ini telah mendahului setiap resesi AS selama 50 tahun terakhir, memicu aksi jual dramatis di pasar saham secara global akhir pekan lalu dan menyerbu ke dalam surat utang pemerintah AS dengan tenor lebih panjang.

"Sementara pasar sekarang keluar dari kegelisahan ekstrem mengenai kurva imbal hasil AS, tidak dapat disangkal bahwa data AS akhir-akhir ini lemah, hampir tidak menghilangkan kekhawatiran tentang prospek ekonomi," kata Hirokazu Kabeya, kepala strategi global di Daiwa Securities, seperti dikutip Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top