Bank Commonwealth Rekomendasikan Reksa Dana Saham dan Sukuk Ritel

Bank Commonwealth merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi jangka panjang dengan imbal hasil yang lebih optimal dibandingkan dengan reksa dana lainnya. 
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 13 Maret 2019  |  13:20 WIB
Bank Commonwealth Rekomendasikan Reksa Dana Saham dan Sukuk Ritel
Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya (kanan) memberikan penjelasan saat peluncuran aplikasi CommBank SmartWealth, di Jakarta, Kamis (17/1/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Commonwealth merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi jangka panjang dengan imbal hasil yang lebih optimal dibandingkan dengan reksa dana lainnya. 

“Untuk investasi yang sifatnya jangka menengah—panjang (minimal 1 tahun), kami lebih melihat reksa dana saham sebagai pilihan utama dengan mempertahankan alokasi saham sebesar 70% di dalam portofolio,” kata Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya melalui siaran pers, seperti dikutip pada Rabu (13/3/2019).

Pasalnya, pada tahun ini Ivan memperkirakan potensi kenaikan saham lebih menarik dibandingkan dengan aset kelas lainnya. 

Sementara itu, bagi investor yang memiliki profil risiko konservatif dan moderat, Sukuk Retail dapat menjadi salah satu pilihan diversifikasi investasi selain reksa dana saham dengan kupon 8,05% per tahun setara dengan deposito 8,55% per tahun merupakan imbal hasil yang menarik.

Ivan menjelaskan, koreksi pasar saham domestik pada bulan lalu terjadi lebih disebabkan oleh sentimen perkembangan perundingan dagang AS—China.

“Hal ini membuat investor asing yang awal tahun masuk ke pasar Indonesia memutuskan menarik dahulu sebagian dananya. Dana asing yang keluar tersebut menyebabkan penurunan IHSG. Di bulan Maret ini, arah pasar keuangan juga akan kembali fokus pada pertemuan lanjutan AS dan Tiongkok,” jelas Ivan.

Adapun, perundingan dagang tersebut diharapkan dapat selesai sebelum batas waktu perjanjian tanggal 1 Maret 2019. Namun, hal itu tidak sesuai dengan harapan dan masa perundingan diperpanjang hingga pertengahan bulan ini karena kedua belah pihak masih belum menemukan titik temu perundingan. 

Pada bulan lalu juga, Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un kembali bertemu untuk kedua kalinya membahas tentang perkembangan nuklir dan pembangunan. Pertemuan tersebut pun masih belum memberikan kejelasan mengenai hubungn kedua negara.

Belum lagi isu Brexit di Eropa juga menjadi sentimen negatif dari luar negeri seiring dengan tenggat waktu Inggris keluar dari Uni Eropa semakin dekat

Dari sisi domestik, Ivan melanjutkan, Bank Indonesia memutuskan untuk menahan suku bunga acuan 7—Day Reverse Repo di level 6,0% dengan pertimbangan bahwa potensi kenaikan suku bunga acuan AS di tahun 2019 tidak seagresif kenaikan di tahun 2018.

Selain itu, ada pula keyakinan bahwa inflasi pada 2019 dapat terkendali, dan kondisi pasar keuangan dunia yang mulai kembali melirik emerging market setelah adanya keyakinan bahwa perang dagang antara AS dan Tiongkok dapat diselesaikan dengan perundingan.

Adapun, hasil laporan keuangan emiten di pasar saham Indonesia yang positif, fundamental ekonomi Indonesia dan kondisi politik yang relatif stabil, dapat menjadi sentimen positif yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara tujuan investor asing. 

Selain itu, walaupun pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan melambat di tahun 2019, tetapi pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi masih akan akan positif 5,0%—5,4% sepanjang tahun 2019 dengan ditopang oleh daya beli konsumen yang terjaga dan dampak positif persiapan pemilu.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
commonwealth bank, reksa dana, bank commonwealth

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top