Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kontribusi Dana Kelolaan Capai 7%, Pasar Reksa Dana Syariah Mulai Ramai

Kontribusi dana kelolaan reksa dana syariah pada awal tahun ini menembus 7,17% dari total industri, didorong oleh sejumlah faktor, termasuk dengan adanya perluasan aset dasar offshore instrumen tersebut.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 15 Februari 2019  |  07:58 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Kontribusi dana kelolaan reksa dana syariah pada awal tahun ini menembus 7,17% dari total industri, didorong oleh sejumlah faktor, termasuk dengan adanya perluasan aset dasar offshore instrumen tersebut.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Januari 2019, dana kelolaan atau nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana syariah mencapai Rp37,30 triliun atau berkontribusi 7,17% terhadap total dana kelolaan industri reksa dana yang mencapai Rp519,91 triliun.

Meski masih rendah, pencapaian tersebut merupakan kabar baik, mengingat sejak 2013—2018 kontribusi dana kelolaan reksa dana syariah terhadap total industri hanya berkisar 4% hingga 6%. Adapun, peningkatan dana kelolaan industri reksa dana syariah mulai kencang sejak 2016.

Deputi Pengawas Pasar Modal II Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Fakhri Hilmi menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir OJK fokus mengembangkan pasar modal syariah, termasuk untuk instrumen reksa dana. Menurutnya, OJK akan tetap mengembangkan beberapa program untuk mempopulerkan produk reksa dana syariah pada tahun ini.

“Program untuk reksa dana syariah tahun ini adalah peningkatan basis investor, penyempurnaan POJK No.19/POJK.04/2015 tentang Penerbitan dan Persyaratan Reksa Dana Syariah, dan membuka ruang bagi Badan Pengelola Keuangan Haji untuk mulai berinvestasi pada reksa dana Syariah.,” kata Fakhri saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (14/2/2019).

Adapun, untuk program peningkatan basis investor, OJK membidik generasi milenial melalui pengembangan program SAKU (Reksa Dana Syariah-Ku). Program SAKU merupakan investasi syariah untuk pelajar dan mahasiswa yang bersifat massal. Produknya berupa reksa dana syariah dengan persyaratan yang mudah dan sederhana.

Sementara itu, dalam penyempurnaan POJK No.19/POJK.04/2015 tentang Penerbitan dan Persyaratan Reksa Dana Syariah, OJK bakal memperbarui regulasi yang berkaitan dengan reksa dana syariah berbasis sukuk, reksa dana syariah berbasis efek luar negeri, dan reksa dana syariah bagi investor ritel.

Fakhri memaparkan, pokok pengaturan dari penyempurnaan regulasi tersebut di antaranya menetapkan batasan investasi menjadi 50% dari NAB diinvestasikan pada 1 pihak, reksa dana syariah berbasis sukuk dapat ditawarkan melalui penawaran umum dan penawaran terbatas, serta pemberian insentif perpanjangan waktu penghimpunan dana bagi reksa dana syariah yang khusus untuk investor ritel.

“[Juga] perluasan underlying efek reksa dana syariah berbasis efek luar negeri berupa i-REUTS,  islamic asset backed securities, dan islamic depository receipt,” imbuhnya.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto pun menilai, pertumbuhan dana kelolaan reksa dana syariah tersebut melanjutkan tren positif sejak aturan perluasan reksa dana syariah efek global diterbitkan 3 tahun lalu.

“Sewaktu produk reksa dana syariah efek global terbit, kinerjanya sangat baik sehingga terjadi kenaikan yang cukup signifikan [untuk total dana kelolaannya],” ujar Rudiyanto.

Adapun yang membuat reksa dana syariah efek global tersebut menarik bukanlah terletak pada aset syariah, melainkan pada mata uang yang digunakan, yakni dolar AS. Rudiyanto menilai, instrumen investasi berdenominasi dolar AS di Indonesia masih terbatas sehingga permintaannya menjadi lebih besar.

Sementara itu, reksa dana syariah yang berinvestasi di dalam negeri sendiri juga dinilai masih positif pada tahun ini ditopang oleh kinerja IHSG dan obligasi yang membaik. “Kalau secara total, dari dalam negeri masih bagus,” imbuhnya.

Di sisi lain, PT Infovesta Utama memperkirakan kinerja reksa dana syariah, khususnya pasar uang dapat mencetak imbal hasil pada kisaran 5,5%—6,00%  pada tahun ini atau berada di atas level return deposito pada kisaran 4,9%—5,00%.

Dengan demikian, total dana kelolaan reksa dana syariah pada tahun ini dapat meneruskan penguatannya.

Head of Investment PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana menjelaskan bahwa dana kelolaan reksa dana syariah hingga awal tahun ini banyak didorong oleh produk reksa dana pasar uang.

“Jadi, bisa dikatakan pada Januari, minat paling tinggi ada di pasar uang syariah. Berarti investor yang syariah ini paling tidak pada awal tahun ini tertarik di penempatan reksa dana di jangka pendek dan relatif aman, yaitu di pasar uang,” katanya saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (14/2).

Wawan menambahkan bahwa pertumbuhan dana kelolaan reksa dana syariah juga ditopang oleh porsi reksa dana syariah efek global yang berkontribusi sekitar 37% terhadap total dana kelolaan reksa dana syariah pada bulan lalu.

Untuk sepanjang tahun ini, Wawan meyakini return produk reksa dana syariah masih akan positif. Pasalnya, sentimen dari pasar saham dan obligasi terus membaik seiring dengan berkurangnya urgensi untuk menaikkan suku bunga.

“Jadi harusnya harga-harga sukuk akan stabil dan yield obligasi sendiri cukup menarik,” tambahnya.

Adapun, hingga Januari 2019, total produk reksa dana syariah yang beredar di pasar mencapai 223 produk atau berkontribusi 10,65% dari total produk industri reksa dana yang mencapai 2.094 produk.

 

 
 
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana reksa dana syariah
Editor : Riendy Astria

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top