Pasar Emerging Market Pulih, Rupiah Ditutup Menguat

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 16 poin atau 0,11% di level Rp14.561 per dolar AS, setelah bergerak pada kisaran Rp14.558-Rp14.590 per dolar AS.
Aprianto Cahyo Nugroho | 27 Desember 2018 18:06 WIB
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berbalik menguat dan berhasil mengakhiri pelemahan tiga hari berturut-turut pada perdagangan hari ini, Kamis (27/12/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 16 poin atau 0,11% di level Rp14.561 per dolar AS, setelah bergerak pada kisaran Rp14.558-Rp14.590 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah sebelumnya mampu rebound dengan dibuka terapresiasi 0,10% atau 14 poin di level Rp14.563 per dolar AS, setelah pada perdagangan Rabu (26/12) ditutup melemah 24 poin atau 0,16% di level Rp14.577 per dolar AS.

Dilansir Bloomberg, rupiah menguat bersama dengan sebagian besar mata uang Asia lainnya karena reli pada saham global mendorong permintaan untuk aset emerging-markets.

Rupiah menguat di saat mayoritas mata uang lainnya di Asia juga terapresiasi, dipimpin oleh peso Filipina yang menguat 0,51% dan disusul yen Jepang yang menguat 0,50%.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah mengatakan BI siap melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas mata uang.

“Bank sentral akan mengelola stabilitas rupiah melalui intervensi dalam mata uang spot, Domestic Non Deriverable Forward (DNDF), dan pasar obligasi,” ungkap Nanang, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (27/12/2018).

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah 0,333 poin atau 0,34% ke level 96,717 pada pukul 17.46 WIB.

Indeks dolar mulai tergelincir ke zona merah dengan dibuka turun 0,121 poin atau 0,12% di level 96,929, setelah pada perdagangan Rabu (26/12) mampu berakhir menguat 0,49% atau 0,469 poin di posisi 97,050.

Dilansir Reuters, meskipun melemah dolar AS cenderung bertahan karena tanda-tanda ketegangan perdagangan yang mereda serta data ekonomi AS yang kuat mengirim saham Wall Street dan imbal hasil Treasury lebih tinggi.

"Investor akan kembali ke pasar AS setelah penumpukan banyak ketakutan , ini akan mendukung dolar serta imbal hasil obligasi serta saham," kata Stephen Innes, kepala perdagangan Asia di Oanda.

"Risiko perang dagang sedikit berkurang, sehingga sentimen risiko juga akan mendukung mata uang negara emerging-markets," tambah Innes, seperti dikutip Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, bursa emerging market

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top