Rupiah Tak Lagi Lesu Jelang Akhir Pekan

Nilai tukar rupiah berhasil lepas dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS) sekaligus menjadi yang terkuat di Asia pada perdagangan hari ini, Jumat (7/12/2018).
Renat Sofie Andriani | 07 Desember 2018 19:48 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil lepas dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS) sekaligus menjadi yang terkuat di Asia pada perdagangan hari ini, Jumat (7/12/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot rebound dan ditutup terapresiasi 40 poin atau 0,28% di level Rp14.480 per dolar AS, apresiasi pertama dalam empat hari.

Padahal, rupiah sempat melanjutkan pelemahannya ketika dibuka terdepresiasi 6 poin atau 0,04% di posisi 14.526, setelah berakhir melemah 117 poin atau 0,81% di level Rp14.520 per dolar AS pada perdagangan Kamis (6/12).

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak fluktuatif di level Rp14.458 – Rp14.533 per dolar AS.  

Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara, kekhawatiran atas berlanjutnya perang dagang antara AS dan China menjadi salah satu faktor global yang menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah pada pekan ini.

"Interpretasi pasar perang dagang AS dan China belum mereda. Kemarin ditangkapnya ada direktur Huawei di Kanada dan akan diekstaradiksi ke AS. Itu mencerminkan perang dagang AS dan China belum mereda," ujar Mirza, Jumat (7/12). 

Perang dagang antara dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut dikhawatirkan akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Sementara itu, pelemahan kurs Indonesia dan India memang agak lebih besar dalam dua hari terakhir dibandingkan kurs negara lain. Hal tersebut, lanjut Mirza, disebabkan karena defisit transaksi berjalan yang dialami keduanya sehingga pasar bereaksi lebih banyak. 

Namun, setelah dalam beberapa hari terakhir membukukan pelemahan terdalam di antara mata uang di Asia, kali ini rupiah mampu unjuk gigi dan menjadi yang terkuat. Penguatannya diikuti rupee India yang terapresiasi 0,14% terhadap dolar AS.

Dilansir dari Bloomberg, rupiah dan rupee memimpin penguatan mayoritas mata uang di Asia setelah penurunan harga minyak dan pemulihan sebagian bursa saham di AS membantu mendorong sentimen positif untuk aset berisiko.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Januari 2019 terpantau stagnan di level US$51,49 per barel pada pukul 18.39 WIB, setelah berakhir anjlok 2,65% atau 1,40 poin di posisi 51,49 pada perdagangan Kamis (6/12). Harga minyak Brent juga ditutup anjlok lebih dari 2% kemarin.

Sentimen juga terbantukan cuitan Presiden AS Donald Trump dalam akun Twitter yang setuju dengan pernyataan China bahwa kedua belah pihak memiliki komunikasi yang lancar dan kerjasama yang baik, serta bahwa kesepakatan perdagangan bisa dicapai dalam 90 hari ke depan.

“Harga minyak yang lebih rendah umumnya juga positif untuk Asia, dan kita telah memiliki beberapa komentar positif dari Trump tentang perdagangan,” kata Dushyant Padmanabhan, pakar strategi mata uang di Nomura.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau berbalik naik 0,029 poin atau 0,03% ke level 96,839 pada pukul 18.21 WIB.

Pergerakan indeks dolar sebelumnya dibuka di zona merah dengan turun tipis 0,007 poin atau 0,01% di level 96,803, setelah pada perdagangan Kamis (6/12) berakhir melemah 0,27% atau 0,260 poin di posisi 96,810.

Dolar AS bergerak menuju pelemahan mingguannya saat para pedagang menantikan laporan pekerjaan AS yang dapat mendorong kemungkinan bagi Federal Reserve AS untuk mempertimbangkan jeda dalam langkah pengetatannya.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, nilai tukar rupiah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top