Batu Bara Lawan Tren Tekanan Perang Dagang, Ini Penopangnya!

Eskalasi tensi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China tak hanya menggoyang pasar finansial tetapi juga sektor komoditas. Di antara banyaknya komoditas yang rentan terdampak seperti minyak mentah, batu bara justru mampu melawan tren tersebut.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 12 Juli 2018  |  15:59 WIB
Batu Bara Lawan Tren Tekanan Perang Dagang, Ini Penopangnya!
Alat berat dioperasikan untuk membongkar muatan batu bara dari kapal tongkang, di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Eskalasi tensi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China tak hanya menggoyang pasar finansial tetapi juga sektor komoditas. Di antara banyaknya komoditas yang rentan terdampak seperti minyak mentah, batu bara justru mampu melawan tren tersebut.

Harga batu bara thermal Australia, yang merupakan benchmark harga batu bara di Asia, telah naik sekitar 40% sepanjang tahun ini, menembus US$120 per metrik ton untuk pertama kalinya sejak 2012.

“Kami pikir lonjakan harga batu bara telah menjadi respons atas musim panas yang luar biasa panas di China serta pertumbuhan ekonomi yang solid pada paruh pertama tahun ini,” kata Caroline Bain, kepala ekonom komoditas di Capital Economics, seperti dikutip CNBC.

Musim panas yang lebih panas dari biasanya mendorong permintaan untuk pendingin ruangan. Gelombang panas juga mengeringkan penampungan air, dengan memukul output pembangkit tenaga listrik air. Untuk diketahui, pembangkit tenaga air merupakan sumber utama energi terbarukan di China.

Turut berkontribusi terhadap krisis pasokan adalah penurunan produksi batu bara domestik dalam beberapa tahun terakhir seiring upaya China untuk membersihkan lingkungannya.

Semua faktor tersebut berkontribusi terhadap permintaan impor batu bara yang lebih besar. Pemasok batu bara utama untuk China adalah Australia, namun AS juga mengekspor sumber bahan bakar ke negeri Tirai Bambu.

Ekspor batu bara Amerika ke China meningkat dua kali lipat dari tahun 2016 hingga 2017, tetapi bahan bakar fosil tersebut bakal dikenakan tarif 25% pada tanggal yang belum ditentukan.

Kekuatan batu bara kontras dengan penurunan sebesar lebih dari 8% pada indeks pertanian, dan logam industri GSCI S&P yang diakibatkan kombinasi kekhawatiran perang perdagangan global dan ekonomi China yang lebih lesu.

Para pemerhati lingkungan memang telah berkampanye untuk mengakhiri penggunaan batu bara, yang umumnya lebih kotor daripada sumber bahan bakar lain seperti gas alam.

Akan tetapi, permintaan untuk komoditas ini telah bertahan. Fakta tersebut bahkan berlaku di China, dimana pemerintahnya berupaya keras membersihkan polusi udara yang sensitif secara politik.

Raksasa energi BP, dalam tinjauan tahunan Statistical Review of World Energy, mengemukakan bahwa pangsa batu bara yang digunakan dalam pembangkit listrik adalah 38%, praktis tidak berubah dari tahun 1997.

Di China, kapasitas untuk energi terbarukan dan bahan bakar yang lebih bersih seperti gas alam belum berhasil mengatasi pertumbuhan permintaan, terutama mengingat alternatif seperti pembangkit listrik tenaga air yang harus mengurangi output karena kondisi cuaca, atau infrastruktur gas yang belum siap.

Selain China, permintaan dari Jepang dan negara-negara berkembang di Asia Tenggara juga telah menopang harga batu bara. Faktor pendukungnya adalah pasokan yang diperketat karena kampanye dari para pencinta lingkungan yang telah mengeringkan dana dan investasi di sektor ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara

Editor : Fajar Sidik
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top