Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dow Jones dan S&P 500 Catat Bulan Terburuk Dalam 2 Tahun

Pelemahan bursa Wall Street berlanjut pada akhir perdagangan Rabu (28/2/2018), dengan Dow Jones dan S&P 500 membukukan performa bulanan terburuknya sejak Januari 2016, akibat terseret kekhawatiran lebih lanjut mengenai kenaikan suku bunga.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 01 Maret 2018  |  06:17 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan bursa Wall Street berlanjut pada akhir perdagangan Rabu (28/2/2018), dengan Dow Jones dan S&P 500 membukukan performa bulanan terburuknya sejak Januari 2016, akibat terseret kekhawatiran lebih lanjut  kenaikan suku bunga.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup merosot 1,5% atau 380,83 poin di level 25.029,2, indeks S&P 500 melorot 1,11% atau 30,45 poin di 2.713,83, dan indeks Nasdaq Composite berakhir melemah 0,78% atau 57,35 poin di level 7.273,01.

Sepanjang bulan Februari, Dow Jones telah turun 4,3% dan S&P 500 turun 3,9%. Adapun indeks Nasdaq turun 1,9%, penurunan persentase bulanan terbesarnya sejak Oktober 2016.

Indeks S&P 500 juga mengakhiri kenaikan 10 bulan berturut-turut, yang merupakan rentetan penguatan terpanjangnya sejak membukukan kenaikan 11 bulan berturut-turut mulai Maret 1958 sampai Januari 1959.

Pelemahan pada perdagangan Rabu sekaligus menutup satu bulan yang ditandai oleh lonjakan volatilitas dan kekhawatiran bahwa kenaikan inflasi dapat mendorong The Federal Reserve meningkatkan laju penaikan suku bunga.

Di depan Parlemen AS pada Selasa (27/2) waktu setempat, Gubernur baru The Fed Jerome Powell menyampaikan pandangan optimistis tentang ekonomi AS serta menyatakan sejumlah data telah memperkuat optimismenya terhadap inflasi.

Menyusul pernyataannya itu, para pelaku pasar meningkatkan spekulasi mereka atas potensi penaikan suku bunga sebanyak empat kali tahun ini oleh bank sentral AS tersebut.

“Investor masih mencoba mencermati di mana Fed akan berada antara saat ini dan akhir tahun. Sementara itu, Powell telah memberikan komentar bernada hawkish,” kata Bucky Hellwig, senior vice president di BB&T Wealth Management di Birmingham, Alabama, seperti dikutip Reuters.

Saham energi turun bersama harga minyak. Sektor ini mengalami penurunan harian terbesarnya pada S&P 500, namun pergerakan di bawah rata-rata 50 hari pada S&P 500 memicu penjualan lebih lanjut pada perdagangan sore.

Indeks Cboe Volatility, barometer yang menjadi acuan atas perkiraan volatilitas jangka pendek pada indeks S&P 500, berakhir naik 1,26 poin di posisi 19,85, level penutupan tertingginya dalam sepekan.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wall street dow jones
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top