Harga Bahan Baku Naik, Supreme Cable (SCCO) Pasang Target Moderat

Emiten kabel PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk. menargetkan penjualan bersih pada 2017 sama dengan kinerja tahun lalu senilai Rp3,74 triliun.
Hafiyyan | 23 Mei 2017 19:45 WIB
Pekerja menarik gulungan kabel listrik PLN untuk kereta ringan/Light Rail Transit (LRT) di kawasan Jakabaring, Palembang, Sumatra Selatan, Kamis (13/4). - Antara/Nova Wahyudi

JAKARTA - Emiten kabel PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk. menargetkan penjualan bersih pada 2017 sama dengan kinerja tahun lalu senilai Rp3,74 triliun.

Direktur Supreme Cable Nicodemus M. Trisnadi mengatakan tahun ini margin pemasukan perseroan diprediksi menipis akibat proyeksi meningkatnya harga dua bahan baku utama kabel, yakni tembaga dan aluminium. Adapun pada 2016, harga kedua komoditas tersebut cenderung turun sehinga menebalkan pundi-pundi pemasukan emiten dengan kode saham SCCO itu.

"Tahun kemarin bagus pendapatan karena harga bahan baku turun. Margin pada 2017 sepertinya tidak sebagus tahun lalu," paparnya setelah RUPST, Selasa (23/5).

Oleh karena itu, pada 2017 perseroan membidik target penjualan yang cenderung sama seperti tahun sebelumnya, yakni Rp3,74 triliun. Namun, raihan laba bersih diperkirakan menurun menuju Rp220 miliar atau sekitar 35,38% dari realisasi 2016 sebesar Rp340,49 miliar akibat peningkatan harga bahan baku.

SCCO mematok harga aman untuk tembaga di level US$5.500 per ton dan aluminium US$2.500 per ton. Kedua bahan baku berasal dari industri smelter di Gresik, Jawa Timur, tetapi patokan harga jual menggunakan standar di London Metal Exchange (LME) yang nantinya dikonversi ke rupiah saat transaksi.

Mengutip data Bank Dunia, rerata harga tembaga dan aluminium pada 2016 ialah US$4.868 per ton dan US$1.604 per ton. Pada tahun ayam api, harga keduanya diprediksi meningkat 2 digit menuju US$5.750 per ton dan US$1.800 per ton.

Kapasitas produksi kabel SCCO secara total mencapai 45.000 ton, terdiri dari tembaga sebesar 35.000 ton dan aluminium 10.000 ton. Tahun lalu, pembuatan kabel dari masing-masing bahan baku berjumlah 18.685 ton dan 6.656 ton.

"Memang kami baru running pengoperasian sekitar 60% dari total kapasitas produksi," paparnya.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top