Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Saham Negara Berkembang Terguncang

Pasar saham negara berkembang merosot untuk pertama kalinya selama 4 hari, dengan performa terendah yang dipimpin oleh mata uang Turki Lira.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 03 Maret 2014  |  19:12 WIB
 Ilustrasi - Bisnis.com
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, MANILA—Pasar saham negara berkembang merosot untuk pertama kalinya selama 4 hari, dengan performa terendah yang dipimpin oleh mata uang Turki Lira.

Volatilitas saham tersebut dipicu oleh agresi militer Rusia ke Ukraina dan data ekonomi dari China hingga Korea Selatan yang mengindikasikan perlambatan ekonomi dunia.

Indeks MSCI Emerging Markets terkoreksi 0,5% menjadi 961,29 pada 12.25 p.m di Hongkong. Indeks Kospi Korea Selatan menunjukkan pelemahan dalam sebulan terakhir sehingga won terdepresiasi 0,3% terhadap dollar.

Anjloknya saham Korea Selatan diakibatkan oleh melesetnya ekspor dari estimasi menyusul serangan Korea Utara dengan menembakkan dua rudal.

Indeks Hang Seng China Enterprises juga terlihat merosot 0,6% setelah indeks manufaktur China memperlihatkan kontraksi. Selain itu, Lira Turki dan Zloty Polandia melemah 0,6%.

Seperti diketahui, AS tengah mempertimbangkan untuk menjatuhkan sanksi pada Rusia menyusul keputusan Rusia untuk mengerahkan militer guna menduduki Ukraina.

Rencananya, Senin (3/3) Menteri Luar Negeri berkunjung ke Kiev, ibu kota Ukraina setelah mendapatkan laporan bahwa tentara Rusia telah berada di wilayah Crimea, Ukraina.

Sementara itu, kesenjangan pertumbuhan ekonomi negara berkembang atas negara maju terlihat menyusut ke level terendah selama 11 tahun terakhir.

“Semua orang tidak suka konflik yang melibatkan dua kubu adi kuasa. Kemungkinan besar, investor menjauhi pasar hingga ketidakpastian mulai mereda,”kata Ambareesh Baliga, partner manajemen Edelweiss Financial Services Ltd di Mumbai, Senin (3/3).

KOMPAK TURUN

Indeks MSCI Emerging Markets telah merosot 4,2% tahun ini dan perdagangan diproyeksikan 10,2 kali dari proyeksi pendapatan selama 12 bulan. Indeks MSCI dunia justru tumbuh 0,7% pada tahun ini dan diperdagangkan 14,9 kali.

Kelompok 10 industri di negara berkembang juga menurun pada Senin (3/3), didominasi oleh perusahaan tekonologi dan material. Indeks Kospi melemah 0,9% seiring dengan ekspor Korea Selatan yang meningkat tipis 1,6% pada Februari dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Korea Utara menembakkan dua rudal ke laut yang mengindikasikan meningkatnya ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan. Tindakan keras Korea Utara merupakan reaksi penolakan terhadap latihan militer gabungan antara Korea Selatan dengan AS. 

Ekuitas di Indonesia, Vietnam, Malaysia, dan Taiwan tergerus setidaknya 0,6%. Indeks SET Thailand justru tumbuh 1,1%, angka tertinggi sejak penutupan 20 Desember tahun lalu. Krisis anti pemerintah yang berkepanjangan melumpuhkan ekonomi Thailand dan menyebabkan kerugian yang cukup signifikan. 

Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF), ekonomi negara berkembang akan tumbuh dengan laju 4,5% tahun lalu dan negara maju tumbuh 1,2%. Prediksi IMF tersebut menunjukkan selisih terkecil sejak 2002.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emerging market

Sumber : Bloomberg

Editor : Nurbaiti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top