Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IHSG Melemah Dipicu Profit Taking Lantaran Overbought

Bisnis.com, JAKARTA—Indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah tipis karena adanya profit taking (aksi ambil untung) setelah indeks naik 3 hari berturut dan dinilai overbought, sementara pasar masih menyesuaikan posisi menjelang
Giras Pasopati
Giras Pasopati - Bisnis.com 18 September 2013  |  00:35 WIB
IHSG Melemah Dipicu Profit Taking Lantaran Overbought
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah tipis karena adanya profit taking (aksi ambil untung) setelah indeks naik 3 hari berturut dan dinilai overbought, sementara pasar masih menyesuaikan posisi menjelang pertemuan petinggi The Fed.

“Indeks pada penutupan Selasa melemah karena adanya profit taking yang disebabkan IHSG sudah overbought setelah 3 hari naik secara berturut-turut,” ujar Edwin Sebayang, Kepala Riset MNC Securities kepada Bisnis,com Selasa (17/9/2013).

Menurutnya, sentimen penggerak saat ini masih penguatan rupiah untuk sisi domestik. Sementara untuk sentimen eksternal masih terkait kelanjutan stimulus AS menjelang pertemuan petinggi The Fed (FOMC) pada 17-18 September.

“Perkiraan saya capital inflow ke emerging markets hingga akhir tahun bisa berkurang hingga 70%. Untuk besok indeks masih akan melemah terbatas, pergerakan bakal berada di kisaran 4.462 hingga 4.602,” katanya.

Di sisi lain, Destry Damayanti, Kepala Ekonom Bank Mandiri mengatakan pertemuan petinggi The Fed yang sejatinya membahas pengurangan stimulus AS diperkirakan akan melakukan hal itu secara bertahap.

“Saya kira pengurangan akan bertahap, kemungkinan dikurangi per US$10 miliar. Dan capital inflow ke emerging marketsmungkin berkurang, tetapi bergantung investment grade tiap negara,” ucapnya kepada Bisnis, Selasa (17/9).

Lebih lanjut, dari skema perlambatan ekonomi setelah penaikan BI rate yang dapat mengurangi impor, menurutnya hal itu memang dapat memperbaiki defisit neraca pembayaran.

“Itu sudah terlihat dari pertumbuhan kredit yang melambat, pada 2012 sebesar 23%-24%, lalu melambat menjadi 20% pada Juli 2013 dan Agustus 2013 berada di bawah 20%,” jelasnya.

Sementara untuk foreign direct investment (FDI), dirinya memperkirakan selama investment grade Indonesia tidak diturunkan, maka selama semester II 2013, masih bisa tumbuh hingga 15% dan selama setahun penuh, pertumbuhan bisa mencapai 18%.

Ratih Dewi, Chief Investment Officer PT Nikko Securities mengatakan, aksi profit taking memang wajar terjadi, apalagi setelah penaikan yang berkelanjutan. Hal itu ditambah adanya penyesuaian posisi menjelang hasil rapat FOMC.

“Indikasi FOMC memang ke arah pengurangan stimulus. Maka dari itu, investor saat ini sedang menyesuaikan posisi,” ucapnya kepada Bisnis, Selasa (17/9).

Menurut Ratih, sebenarnya stimulus AS adalah hal yang tidak normal, tapi karena hal itu dipakai untuk menjaga likuiditas pasar, maka pada akhirnya dianggap normal bagi investor. Hal itu menyebabkan terjadinya kepanikan sesaat setelah muncul wacana pengurangan.

Pada perdagangan Selasa lalu, IHSG ditutup melemah 0,10% ke 4.517,64. Adapun volume sebanyak 5,18 miliar saham dengan frekuensi 172.807 kali. Sementara nilai total transaksi di pasar reguler dan negosiasi sebesar Rp6,33 triliun.

Lebih lanjut, dalam perdagangan Senin, investor asing tercatat masih mencetak nett buy (aksi beli bersih) sebanyak Rp43,38 miliar. Sedangkan jika diakumulasikan dari awal pekan lalu, total nett buy menjadi sejumlah Rp2,98 triliun.  (ra)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG profit taking 2013 fomc
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top