Bisnis.com, JAKARTA — PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA) berupaya mengurangi ketergantungan impor alat kesehatan dengan hadirnya PT Prodia Diagnostic Line (Proline).
Direktur Utama PRDA Dewi Muliaty mengatakan bahwa PT Prodia Diagnostic Line (Proline) merupakan perusahaan yang memproduksi reagen dan alat kesehatan.
Dia mengatakan bahwa Proline memiliki kapasitas untuk memproduksi alat kesehatan dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40%. Adapun saat ini, PRDA sudah mengakuisisi 39% saham Proline.
"Proline dapat menjadi pemasok reagen yang mencakup sebagian besar wilayah di Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor," katanya saat ditanyai Bisnis, Kamis (27/3/2025).
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa pada tahun ini, Proline akan meningkatkan produksi reagen-nya dua sampai tiga kali lipat dari kapasitas sebelumnya, untuk memenuhi kebutuhan alat kesehatan dalam negeri, dengan pabrik yang berada di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang.
Dia menjelaskan bahwa pengadaan alat kesehatan Prodia sampai saat ini belum begitu terdampak signifikan dari pelemahan rupiah.
Baca Juga
"Transaksi Prodia dilakukan dalam rupiah dengan sistem kontrak jangka panjang, dengan range nilai yang disepakati. Kami tetap melakukan pemantauan apabila diperlukan re-negosiasi untuk tetap menjaga stabilitas harga," ujarnya.
Selanjutnya, dia menyatakan bahwa Prodia melakukan antisipasi dengan skema kerja sama sistem kontrak jangka panjang dengan transaksi yang dilakukan dalam rupiah.
Menurutnya, Prodia saat ini sudah memiliki kerja sama dengan banyak pemasok bahan baku dan sejak lama memiliki daftar bahan baku alternatif yang disiapkan oleh tim litbang dan teknik-QC.
"Jadi, setiap saat [Prodia] bisa dengan fleksibel memperoleh bahan baku pilihan terbaik dengan harga yang dapat dikelola dengan baik," tambahnya.
Seperti diketahui, rupiah sudah melemah menuju ke level terendah sejak krisis 1998. Rupiah sempat anjlok ke level Rp16.640 per dolar AS pada Selasa (25/3/2025).
Adapun titik tertinggi rupiah terhadap dolar AS pada 1998 sempat menyentuh ke level Rp16.800 per dolar AS.
Pengamat Forex Ibrahim Assuaibi telah memproyeksi rupiah akan melemah dan berada pada level Rp16.900 per dolar AS hingga akhir 2025.
Dia melihat apabila perang dagang secara global terus terjadi, maka ada kemungkinan besar rupiah akan menyentuh di atas Rp16.700 per dolar AS pada semester I/2025.
"Kalau sudah jebol di atas Rp16.700, untuk naik mendekati level Rp16.800 sampai Rp16.900 pada akhir tahun ini kemungkinan besar akan tercapai," ucapnya.
Kemudian, dia melihat bahwa sektor yang akan terdampak negatif dari pelemahan rupiah saat ini adalah barang-barang impor.
________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.