Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Catatan Para Analis Jelang Garuda GIAA Jadi Anak Usaha InJourney

Masuknya GIAA ke InJorney diperkirakan menuai respons positif pelaku pasar. Namun, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan investor ke depan.
Pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia terparkir di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (21/6/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia terparkir di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (21/6/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan analis menilai terdapat sejumlah hal yang perlu dicermati investor sejalan dengan rencana masuknya PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) sebagai bagian dari Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata, InJourney, dalam waktu dekat. 

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Vicky Rosalinda mengatakan bahwa secara garis besar masuknya Garuda Indonesia ke InJourney akan direspons positif oleh pelaku pasar. Pasalnya, langkah ini akan berdampak baik bagi perseroan dalam jangka 5 tahun hingga 10 tahun ke depan. 

“Selain itu, GIAA dapat memperoleh keuntungan lewat bergabung dengan InJourney, serta memperkuat konektivitas udara dan ekosistem pariwisata Indonesia,” ujar Rosalinda saat dihubungi Bisnis pada Kamis (18/7/2024). 

Kendati demikian, Rosalinda atau akrab disapa Ocha juga meminta investor untuk melihat sejumlah hal dalam proses penggabungan tersebut. Mulai dari struktur dan tata kelola InJourney hingga strategi bisnis untuk memulihkan keuangan GIAA ke depan. 

“Investor harus melihat dari struktur dan tata kelola InJourney setelah GIAA bergabung. Juga melihat strategi bisnis yang akan dijalankan untuk membantu GIAA dari kinerja yang kurang bagus, serta melihat dampak rencana ini terhadap kinerja keuangan GIAA,” tuturnya. 

Dihubungi terpisah, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai rencana Kementerian BUMN untuk menginjeksi GIAA ke dalam InJourney memang diperlukan untuk memperkuat konsolidasi perusahaan pelat merah. 

Namun, dia menyatakan bahwa hal terpenting yang perlu dilakukan GIAA ke depan adalah berupaya meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. Langkah ini bertujuan mendorong demand di sektor aviasi yang tertekan akibat tingginya harga tiket pesawat.  

“Lesunya permintaan di sektor aviasi perlu diantisipasi pemerintah lewat skema penurunan tarif. Ini juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya bahan bakar avtur. Jika penurunan tarif diberlakukan, demand diharapkan bisa meningkat,” kata Nafan. 

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas tidak memberikan rekomendasi untuk GIAA. Hal ini dikarenakan saham emiten maskapai penerbangan BUMN tersebut dinilai tidak cukup likuid. 

“Saham Garuda Indonesia tidak bisa dianalisis kalau harga sahamnya stagnan, lalu tiba-tiba naik, kemudian stagnan kembali. Jadi belum ada kekuatan volume perdagangan yang membuat saham GIAA ini likuid,” pungkasnya. 

Kementerian BUMN sebelumnya memastikan emiten maskapai penerbangan pelat merah Garuda Indonesia akan bergabung ke dalam Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata, InJourney, dalam waktu dekat.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan sederet transformasi dalam kurun 5 tahun terakhir. Salah satunya melalui pembentukan holding

Adapun, langkah terbaru Kementerian BUMN adalah menggabungkan PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero) menjadi PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports. Penggabungan ini dilakukan pada Desember 2023.  

“Jadi, yang terakhir kami gabungkan adalah AP I dengan AP II di dalam InJourney dan kami juga akan mentransfer Garuda [GIAA] menjadi anak perusahaan InJourney dalam waktu dekat,” ujarnya dalam Market Outlook 2024 pada Selasa (16/7/2024).

Kartika atau akrab disapa Tiko mengatakan masuknya Garuda Indonesia ke dalam InJourney akan memperpanjang daftar perusahaan pelat merah atau BUMN yang bergabung ke dalam klaster atau holding yang dibentuk pemerintah. 

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper