Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Meredup, Dekati Level Terendah sejak Maret 2024

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni 2024 melemah 1,29% atau 1,01 poin menjadi US$77,37 per barel pada pukul 14.47 WIB.
Kilang Minyak/Bloomberg
Kilang Minyak/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA Harga minyak telah jatuh mendekati level terendah sejak pertengahan Maret 2024 saat laporan stok Amerika Serikat (AS) yang sedikit bearish dan fokus ketegangan di Timur Tengah. 

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (8/4/2024) harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni 2024 melemah 1,29% atau 1,01 poin menjadi US$77,37 per barel pada pukul 14.47 WIB. Harga minyak Brent kontrak Juli 2024 juga melemah 1,23% atau 1,02 poin ke US$82,14 per barel.

Berdasarkan perkiraan industri, stok minyak mentah di Cushing telah meningkat lebih dari satu juta barel pada minggu lalu. Laporan ini juga mencerminkan produksi bensin dan sulingan yang lebih tinggi. 

Di Timur Tengah, diketahui militer Israel berhasil menguasai kota Rafah di Gaza. Gencatan senjata antar negara juga dikatakan masih sulit untuk dicapai. 

Kemudian, harga minyak telah menunjukkan tren penurunan sejak awal April 2023, dengan kerugian dalam tiga dari empat minggu terakhir. Faktor-faktor seperti penurunan rentang waktu dan margin pengolahan mengindikasikan prospek yang lebih lemah ke depan. 

Selisih harga pada Brent dan WTI mencapai titik terendah beberapa bulan, menandakan kondisi pasar yang kurang ketat. Margin keuntungan dari produksi bahan bakar seperti diesel juga turun.

Penguatan dolar juga menambah tekanan, membuat minyak menjadi lebih mahal bagi banyak investor. Menurut statistik Bloomberg, dolar menuju kenaikan hari ketiga dan kondisi ini diperparah oleh penurunan harga minyak di bawah rata-rata pergerakan 100 hari terakhir.

“[Meskipun terdapat pelemahan di tengah meningkatnya stok dan memudarnya ancaman geopolitik, terdapat] dukungan yang datang dari risiko sisi pasokan yang sedang berlangsung,” jelas ahli strategi investasi di Standard Chartered Plc, Han Zhong Liang. 

Adapun Liang mengutip sejumlah faktor termasuk pertemuan OPEC+ pada Juni 2024 dan pembaruan pembatasan pada minyak Iran dan Venezuela. Dia juga berpendapat bahwa pasar cenderung meremehkan risiko-risiko ini dalam jangka pendek.

OPEC dijadwalkan untuk bertemu bulan depan untuk mengevaluasi kebijakan pasokan setelah penerapan pemangkasan produksi selama paruh pertama tahun ini untuk stabilisasi harga. 

Menurut survei Bloomberg, kebanyakan pedagang memperkirakan pemangkasan ini akan diperpanjang, mungkin hingga akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper