Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mengukur Peluang Rebound Rupiah dari Dolar AS yang Sentuh Rp16.000

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan kinerja yang merosot pada awal tahun ini hingga mencapai level Rp16.000 per dolar AS.
Karyawan menunjukan uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan kinerja yang merosot pada awal tahun ini hingga mencapai level Rp16.000 per dolar AS. Kapan rupiah akan mulai menguat?

Berdasarkan data Google Finance, rupiah bercokol di level Rp16.117 per dolar AS hingga saat ini, Sabtu (13/4/2024). Rupiah mulai menyentuh level Rp16.000 pada perdagangan Rabu (10/4/2024).

Adapun, jika ditarik mundur mengacu data Google Finance, nilai tukar rupiah terhadap dolar sempat menembus Rp16.000 pada 3 April 2020. Kala itu nilai tukar mata uang Indonesia menembus Rp16.300 per dolar AS.

Data Google Finance tersebut menunjukan pergerakan rupiah secara internasional. Sebab, perdagangan domestik pada momen lebaran sedang libur. 

Mengacu data Bloomberg pada perdagangan terakhir jelang libur lebaran, yakni Jumat pekan lalu (5/4/2024), rupiah ditutup menguat 44 poin atau 0,28% ke Rp15.848.

Sementara itu, tren lesunya rupiah memang sudah terjadi sejak awal tahun ini. Pada awal tahun atau perdagangan per 2 Januari 2024, rupiah masih di level Rp15.390.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan faktor pelemahan rupiah sejak awal tahun datang dari global saat tren dolar AS yang merangkak naik. "Murni karena geopolitik, eksternal. Ini karena inflasi di AS naik lagi," katanya kepada Bisnis pada Jumat (12/4/2024).

Selain itu, pasar keuangan saat ini sedang mengantisipasi bahwa The Fed akan menunda kebijakan pemangkasan suku bunga hingga September 2024 mendatang.

Chief Economist Citibank, N.A., Indonesia (Citi Indonesia) Helmi Arman juga mengatakan melemahnya rupiah terjadi saat dolar AS sedang perkasa terhadap mata uang lainnya. Adapun, perkasanya dolar AS terjadi di tengah ketidakpastian penurunan suku bunga acuan The Fed.

Mengukur Peluang Rebound Rupiah dari Dolar AS yang Sentuh Rp16.000

Proyeksi Kinerja Rupiah

Helmi memproyeksikan dengan tren lemahnya rupiah yang disebabkan kuatnya dolar, maka rupiah bisa kembali bangkit pada pertengahan tahun ini. "Diperkirakan penguatan rupiah terjadi jika The Fed memulai penurunan suku bunganya. Kami Citi memperkirakan The Fed turun Juni," kata Helmi dalam konferensi pers pada beberapa waktu lalu (2/4/2024).

Turunnya suku bunga acuan The Fed itu terjadi dengan asumsi kondisi ketenagakerjaan di AS yang semakin lemah.

Meski begitu, pada akhir tahun kondisi rupiah diproyeksikan akan kembali menghadapi tantangan. "Menjelang akhir 2024 ada faktor risiko lagi, terjadinya pemilu di AS," kata Helmi.

Menurut Helmi, banyak anggapan bahwa mantan Presiden AS Donald Trump akan kembali bertarung dan dengan popularitasnya yang tinggi, akan memenangkan pilpres di AS. "Menurut analisis Citi, kalau Trump terpilih lagi, maka ini akan positif terhadap kekuatan dolar AS. Kalau dolar AS menguat lagi terhadap mata uang negara lain secara umum, RI harus waspada lagi," jelas Helmi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper