Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Gejolak Batu Bara Berimbas ke Portofolio Saratoga (SRTG) di MDKA dan ADRO

Saratoga Investama Sedaya (SRTG) mengalami efek dari gejolak harga batu bara ke portofolio saham mereka seperti ADRO atau MDKA.
Presiden Komisaris PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) Edwin Soeryadjaya (kanan) dan Direktur Keuangan Lany Djuwita berjabat tangan saat sebelum pandemi./ Bisnis - Nurul Hidayat
Presiden Komisaris PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) Edwin Soeryadjaya (kanan) dan Direktur Keuangan Lany Djuwita berjabat tangan saat sebelum pandemi./ Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) mengalami efek dari gejolak harga batu bara ke portofolio saham mereka seperti ADRO atau MDKA.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, SRTG membukukan kerugian neto sebesar Rp10,14 triliun sepanjang tahun lalu. Jika dibandingkan dengan perolehan 2022, perseroan masih membukukan laba sebesar Rp4,61 triliun. 

Hal tersebut disebabkan oleh kerugian neto atas investasi pada saham dan efek ekuitas lainnya yang mencapai Rp13,81 pada tahun lalu. Padahal, tahun 2022, SRTG meraih keuntungan atas investasi saham dan efek ekuitas lain sebesar Rp3,72 triliun. 

Sementara itu, Saratoga mencatatkan NAV sebesar Rp48,9 triliun pada 2023. Perolehan NAV tersebut mengalami penurunan 20% secara tahunan (year-on-year/YoY). 

Direktur Investasi Saratoga Devin Wirawan menjelaskan gejolak harga komoditas pada tahun lalu berdampak terhadap harga saham-saham perusahaan portofolio utama SRTG, yakni PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA). 

“Fluktuasi harga saham tersebut ikut berdampak terhadap NAV Saratoga pada akhir tahun lalu,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (18/3/2024). 

Kendati demikian, Devin meyakini bahwa perusahaan portofolio seperti ADRO dan MDKA akan mampu mencapai pertumbuhan bisnis berkelanjutan dan menguntungkan. 

Apalagi, kedua entitas tersebut berada di sektor strategis, yakni batu bara, emas, nikel dan juga bisnis hilirisasi komoditas yang berdampak langsung pada perekonomian global dan domestik.

Di sisi lain, nilai investasi SRTG di perusahaan blue chip mencapai Rp40,24 triliun atau turun 21,45% YoY. Emiten blue chip portofolio SRTG adalah PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG), ADRO, MDKA, dan Bersama Digital Infrastructure Asia Pte. Ltd.

Adapun SRTG membukukan penerimaan dividen sebesar Rp3,03 triliun atau meningkat 41,13% YoY pada 2023. Akan tetapi, kas dan setara kas akhir periode SRTG turun 22.90% YoY menjadi Rp666,22 miliar, dari capaian tahun sebelumnya Rp862,85 miliar. 

Berdasarkan neraca, total aset SRTG ambles 20,11% YoY menjadi Rp50,94 triliun sepanjang 2023. Pada saat yang sama, liabilitas turun 45,46% YoY menjadi Rp2,40 triliun, sementara ekuitas tercatat mencapai Rp48,78 triliun atau melemah 18,44% YoY. 

Direktur Keuangan Saratoga Lany D. Wong mengungkapkan penurunan posisi utang berdampak pada terpangkasnya biaya bunga hingga 49% pada 2023. Hal ini sejalan dengan upaya perusahaan dalam mengelola modal secara hati-hati di tengah iklim suku bunga tinggi.

“Kami menurunkan utang bersih Saratoga hingga 62% menjadi Rp263 miliar, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp688 miliar. Kami juga berhasil menjaga rasio biaya dan utang tetap berada pada tingkat yang sehat,” pungkasnya.

Lany menambahkan bahwa biaya operasional terhadap NAV masing-masing sebesar 0,5% dan loan to value menjadi 0,4% atau dari sebelumnya 1,1% pada 2022. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper