Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka Perkasa ke Level Rp15.620, Dolar AS Melemah

Rupiah dibuka menguat ke level Rp15.620, pada perdagangan akhir pekan hari ini, Jumat (19/1/2024). Adapun dolar AS terpantau melemah.
Karyawati menghitung mata uang Dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Senin (14/8/2023). Bisnis/Suselo Jati
Karyawati menghitung mata uang Dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Senin (14/8/2023). Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat ke level Rp15.620 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (19/1/2024). Adapun dolar AS terpantau melemah.

Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 3,50 poin atau 0,02% menuju level Rp15.620 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS melemah 0,17% menuju posisi 103,36.

Sementara itu, mata uang lain di kawasan Asia mayoritas menguat. Yuan China, semisal, naik 0,04%, diikuti won Korea yang menguat 0,27%. Adapun ringgit Malaysia mencatatkan penguatan 0,09%, rupee India naik 0,02%, dan peso Filipina menguat 0,04%.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyatakan ketidakpastian terkait The Fed mulai menurunkan suku bunga telah membantu dolar pulih pada tahun ini, setelah terpukul keras pada akhir tahun 2023 akibat sikap dovish The Fed pada pertemuan FOMC Desember 2023.

“Ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga di Maret 2024 telah berkurang menjadi peluang 62,2% dibandingkan perkiraan 76,9% di sesi sebelumnya, menurut FedWatch Tool dari CME,” ujar Ibrahim dalam riset dikutip Jumat (19/1/2024).

Selain itu, inflasi harga konsumen Inggris naik untuk pertama kalinya dalam 10 bulan pada Desember 2023, menjadi 4% secara tahunan. Hal ini mengakibatkan pelaku pasar mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga Bank of England dalam beberapa bulan mendatang.

Selain itu, pernyataan hawkish datang dari pejabat Bank Sentral Eropa. Inflasi konsumen Eropa diperkirakan terkonfirmasi pada sesi ini dengan kenaikan 2,9% pada Desember 2023, atau dari 2,4% pada bulan sebelumnya sehingga membalikkan penurunan enam bulan berturut-turut.

Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2024 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada tingkat 6%. Dengan mempertimbangkan volatilitas pasar keuangan global yang masih berlangsung.

Menurut Ibrahim, ada sejumlah kriteria bagi BI untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga. Pertama, seberapa cepat penguatan nilai tukar rupiah. Kedua, tetap terkendalinya inflasi, khususnya inflasi inti dan inflasi pangan. Ketiga, perkembangan dukungan kredit dalam pembiayaan ekonomi yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, Indonesia berhasil mencapai surplus sebesar US$3,3 miliar di Desember 2023, meningkat dari US$2,4 miliar di bulan sebelumnya. Berlanjutnya surplus perdagangan ini berhasil mendukung cadangan devisa yang mencapai US$146,4 miliar di akhir tahun 2023, meningkat dari US$137,2 miliar di tahun 2022.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp15.600- Rp15.670," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper