Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka Menguat setelah BI Tahan BI Rate, Dolar AS Lesu

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat setelah kemarin BI mengumumkan menahan suku bunga acuan BI Rate di level 6%.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat setelah kemarin BI mengumumkan menahan suku bunga acuan BI Rate di level 6%. JIBI/Himawan L Nugraha. rn
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat setelah kemarin BI mengumumkan menahan suku bunga acuan BI Rate di level 6%. JIBI/Himawan L Nugraha. rn

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat ke level Rp15.615 pada perdagangan hari ini, Kamis, (18/1/2024) setelah kemarin Bank Indonesia (BI) mengumumkan menahan suku bunga acuan di level 6%.

Mengacu data Bloomberg pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka menguat 0,18% atau 28 poin ke level Rp15.615 per dolar AS, setelah ditutup lesu pada perdagangan kemarin. Sementara itu, indeks mata uang Negeri Paman Sam terpantau melemah 0,16% ke posisi 103,28.

Mayoritas mata uang kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Misalnya, yen Jepang naik 0,09%, dolar Singapura naik 0,11%, dolar Hongkong menguat 0,02%, dan dolar Taiwan menguat 0,20%.

Selanjutnya, yuan China naik 0,05%, peso Filipina naik 0,17%, dan baht Thailand menguat 0,31%. Hanya rupee India yang melemah 0,07%.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksi mata uang rupiah fluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang  Rp15.630-Rp15.690 per dolar AS pada hari ini.

Dia mengatakan, keputusan BI kemarin untuk menahan suku bunga di level 6% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2024 sejalan dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stabilitas.

"Selain itu, ini merupakan langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 3% plus minus 1% pada 2023 dan 2,5% plus minus 1% pada tahun 2024," ujar Ibrahim dalam risetnya Rabu, (17/1/2024). 

Menurut Ibrahim, ada beberapa alasan BI menahan suku bunga acuan, di antaranya yaitu ketidakpastian global dan tingkat inflasi di negara maju terutama AS yang menimbulkan ketidakpastian kebijakan suku bunga global ke depannya.

Inflasi AS pada Desember 2023 mencapai 3,4% secara tahunan, naik dari 3,1% pada November 2023. Penurunan harga energi global, tertahan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama terkait gangguan di Laut Merah.  

Adapun, dari sentimen global, Gubernur The Fed Christopher Waller mengisyaratkan untuk menunda penurunan suku bunga. Alhasil, dolar AS naik ke level tertinggi dalam satu bulan, dan juga memicu lonjakan tajam dalam imbal hasil Treasury AS, dengan tenor 10 tahun melewati angka 4%.  

Lebih lanjut Ibrahim mengatakan, pelaku pasar terlihat sedikit mengurangi taruhan mereka terhadap penurunan suku bunga bank sentral pada Maret 2024, menurut alat CME Fedwatch. Pasar melihat peluang 62,8% untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin, turun dari 66,1% yang terlihat pada sehari sebelumnya. 

Sementara itu dari Asia, rilis Produk Domestik Bruto China pada kuartal IV/2023 tumbuh sedikit lebih rendah dari perkiraan, yaitu sebesar 5,2%. Pertumbuhan PDB tahunan mencapai 5,2%, mengalahkan target Beijing sebesar 5% pada 2023.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper