Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Dunia Memanas Tersengat Gempuran AS-Inggris di Yaman

Harga minyak mentah berjangka Brent berakhir naik 88 sen, atau 1,1% menjadi US$78,29 per barel, sementara minyak WTI naik 0,9%, menjadi US$72,68 per barel.
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California/ Bloomberg - David Paul Morris
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California/ Bloomberg - David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah naik pada akhir perdagangan Jumat (12/1/2024) waktu setempat setelah pasukan Amerika Serikat dan Inggris melancarkan serangan terhadap kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman.

Harga minyak mentah melonjak lebih dari 4% sebelum akhirnya surut setelah sekutu melancarkan serangan mematikan sebagai respons serangan Houthi yang mengganggu pengiriman barang di Laut Merah. Tindakan ini memperluas konflik yang berasal dari perang di Gaza.

Para saksi membenarkan adanya ledakan di pangkalan militer dekat bandara di ibu kota Sanaa dan kota ketiga Yaman, Taiz, pangkalan angkatan laut di pelabuhan utama Laut Merah Yaman, Hodeidah, dan lokasi militer di wilayah pesisir provinsi Hajjah.

Militer AS mengatakan 60 sasaran di 28 lokasi telah diserang, menggunakan lebih dari 150 amunisi.

Harga minyak mentah berjangka Brent berakhir naik 88 sen, atau 1,1%, menjadi US$78,29 per barel. Sesi tertingginya lebih dari US$80, tertinggi tahun ini. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS naik 66 sen, atau 0,9%, menjadi menetap di US$72,68, mengurangi kenaikan setelah menyentuh level tertinggi tahun 2024 di US$75,25.

Sementara itu, data PPI AS meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga AS lebih awal dari Federal Reserve. Indeks harga produsen untuk permintaan akhir turun 0,1% bulan lalu karena harga barang menurun, sementara harga jasa tidak berubah, yang menjadi pertanda baik bagi penurunan inflasi di bulan-bulan mendatang.

Di sisi lain, data pada Kamis menunjukkan harga konsumen AS naik lebih dari perkiraan pada bulan Desember 2023.

“Pasar mengabaikan laporan CPI kemarin karena tren inflasi membaik dan The Fed dapat secara sah mempertimbangkan penurunan suku bunga tahun ini. Jalur inflasi mulai membaik dan harga konsumen secara bertahap akan mencapai target 2% The Fed,” tulis Jeffrey Roach, kepala ekonom LPL Financial, mengutip Reuters, Sabtu (13/1/2024).

Sementara itu, imbal hasil obligasi AS bertenor dua tahun turun ke level terendah sejak Mei di 4,119% setelah data PPI dirilis. Untuk minggu ini, imbal hasil obligasi dua tahun, yang mencerminkan ekspektasi pergerakan suku bunga, turun 13,1 bps. Ini merupakan kinerja mingguan terburuknya dalam sebulan.

Adapun imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun ke level terendah satu minggu di 3,916%, dan terakhir di 3,955%, turun 1,7 bps.

Menurut aplikasi probabilitas suku bunga LSEG, pasar suku bunga berjangka AS memperkirakan hampir 80% peluang penurunan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed bulan Maret, naik dari peluang 71%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Reuters
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper