Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Emiten TP Rachmat (ASSA) Masih Pikir-pikir Beli Armada EV, Ini Pertimbangannya

Adi Sarana Armada (ASSA) menilai nilai harga jual mobil listrik relatif lebih sulit ditentukan dibandingkan mobil BBM pada umumnya.
Presiden Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA Rent) Projo Sunarjanto (tengah) didampingi Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk Jani Candra (kiri) berbincang dengan Chief Operation Officer (COO) Astra Isuzu Yohanes Pratama saat melihat layanan Bengkel Isuzu Berjalan (BIB) di Cakung, Jakarta Timur, Rabu (5/5/2021). ASSA
Presiden Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA Rent) Projo Sunarjanto (tengah) didampingi Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk Jani Candra (kiri) berbincang dengan Chief Operation Officer (COO) Astra Isuzu Yohanes Pratama saat melihat layanan Bengkel Isuzu Berjalan (BIB) di Cakung, Jakarta Timur, Rabu (5/5/2021). ASSA

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten transportasi dan logistik milik konglomerat TP Rachmat, PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA) mengatakan masih pikir-pikir sebelum mengganti armada logistik perseroan menjadi kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Presiden Direktur ASSA Prodjo Sunarjanto mengatakan, untuk menambah armada, perseroan menganggarkan belanja modal Rp1,3 triliun-Rp1,5 triliun tahun ini. Namun, ASSA memiliki beberapa pertimbangan untuk menggunakan armada EV.

Prodjo mengaku tidak nyaman ketika menggunakan mobil listrik untuk jarak jauh, terlebih jika daya baterai hampir habis di tengah kondisi stasiun pengisian daya atau charging station yang minim.

"Meskipun lebih murah dari sisi BBM, tapi kenyamanannya tidak saya dapatkan. Saya setiap kali kalau menyetir mobil listrik selalu lihat meter listriknya tinggal sisa berapa," ujar Prodjo dalam paparan publik, Rabu (10/1/2024).

Lebih lanjut dia mengatakan, nilai harga jual mobil listrik relatif lebih sulit ditentukan dibandingkan mobil BBM pada umumnya.

"Faktor ketiga, ya asuransinya juga masih ragu-ragu. Karena kalau kecelakaan, ganti akinya itu ya lumayan mahal gitu. Keempat, ya kami belum buktikan kalau di Jakarta ini kan banyak banjirnya ya. Kalau ada banjir, apakah aman?" katanya.

Masalah paling signifikan menurutnya yaitu ketersediaan infrastruktur charging station yang belum memadai untuk kendaraan listrik. Sebab, sebagian besar armada logistik ASSA digunakan untuk jarak jauh.

"Nah ini menyebabkan kenapa kami itu untuk mobil listrik masih cuma beberapa unit. Paling 3 sampai 4 unit saja itu," pungkasnya.

Adapun, ASSA saat sedang dalam tahap mengembangkan bisnis end-to-end logistic dari first, mid, hingga last mile. Perseroan juga menggencarkan segmen logistik business-to-business (B2B).

Kinerja ASSA pada tahun ini diprediksi terdongkrak seiring adanya momen Pemilu 2024 yang meningkatkan kinerja sektor transportasi dan logistik. Selain itu, berkembangnya tren e-commerce setelah TikTok menggandeng Tokopedia juga diproyeksikan akan mendorong segmen kurir AnterAja. 

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyematkan rekomendasi spekulasi beli untuk saham ASSA. Level support ASSA berada di Rp850 sedangkan level resistennya di Rp915 per saham.

"Rekomendasi speculative buy untuk ASSA dengan target price Rp1.000-Rp1.035," ujar Herditya kepada Bisnis. Pada akhir perdagangan Rabu (10/1/2024), saham ASSA ditutup turun 0,57% atau 5 poin ke level Rp875 per saham. 

_____________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper