Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Setelah Merger, Proses Integrasi PalmCo & SupportingCo Butuh Waktu 6 Bulan

Proses integrasi sistem hingga keuangan dari merger PTPN menjadi PalmCo dan SupportingCo ditargetkan selesai dalam kurun waktu 6 bulan atau hingga tahun 2024.
Menteri BUMN Erick Thohir (kiri) bersama dengan Wakil Menteri BUMN II Kartiko Wiroatmojo saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (2/12/2019). Bisnis/Arief Hermawan P
Menteri BUMN Erick Thohir (kiri) bersama dengan Wakil Menteri BUMN II Kartiko Wiroatmojo saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (2/12/2019). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian BUMN resmi menggabungkan 13 perusahaan di bawah holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) menjadi PalmCo dan SupportingCo. Proses integrasi sistem, operasional hingga keuangan diperkirakan memakan waktu 6 bulan.

Merger tersebut resmi terjadi pada Jumat (1/12/2023). PalmCo dibentuk melalui penggabungan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V, VI dan XIII ke dalam PTPN IV sebagai entitas bertahan dan pemisahan tidak murni PTPN III (Persero) ke dalam PTPN IV.

Sementara itu, pembentukan SupportingCo ditempuh melalui penggabungan perusahaan PTPN II, VII, VIII, IX, X, XI, XII, dan XIV ke dalam PTPN I.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan merger PTPN Grup merupakan salah satu skema yang dijalankan oleh Kementerian BUMN. Langkah ini bertujuan sebagai efisiensi dan peningkatan berbagai indikator keuangan, serta operasional perseroan.

Dia mengatakan bahwa proses integrasi sistem hingga keuangan dari merger PTPN ditargetkan selesai dalam kurun waktu 6 bulan atau hingga tahun 2024.

“Tentunya setelah penandatanganan ini akan ada integrasi sistem, HR [human resources], operasional, keuangan, dan sebagainya, yang kami usahakan bisa selesai dalam waktu enam bulan,” ujarnya dalam siaran pers dikutip Minggu (3/12/2023).

Kartika atau akrab disapa Tiko juga menyampaikan aksi korporasi PTPN Group adalah wujud transformasi menyeluruh, termasuk dari sisi pegawai. Dia pun berharap langkah ini dapat mendorong PalmCo sebagai perusahaan sawit terkemuka.

Dia juga menyatakan PalmCo akan didorong untuk fokus meningkatkan hilirisasi produk-produk kelapa sawit. Selain itu, perseroan bakal memusatkan perhatian untuk memproduksi biogas, biodiesel sustainable efficient fuel, dan produk lainnya.

“Bagaimana transformasi ini bisa menjadikan PalmCo menjadi perusahaan sawit terdepan, bukan hanya dari on-farmnya, tapi juga off-farm untuk bisa melakukan downstream, penciptaan nilai, termasuk renewable energy yang berkelanjutan,” ucapnya.

Di sisi lain, penggabungan ini diharapkan membuat PalmCo menjadi perusahaan sawit terbesar di dunia dari sisi luas lahan, yaitu mencapai lebih dari 600.000 hektare pada 2026. Pada saat bersamaan, subholding ini ditargetkan menjadi pemain utama industri sawit dunia.

PTPN dipercaya mampu berkontribusi meningkatkan produksi crude palm oil (CPO) nasional dan minyak goreng dalam negeri. PTPN memperkirakan, produksi minyak goreng akan naik dari 460.000 ton/tahun di 2021 menjadi 1,8 juta ton/tahun pada 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper