Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah dan Mata Uang Asia Rontok Dihantam Penguatan Dolar AS

Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp15.510 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis, (30/11/2023). Sementara itu, dolar AS ditutup perkasa.
Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (30/8/2023). Bisnis/Suselo Jati
Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (30/8/2023). Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp15.510 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis, (30/11/2023), rupiah pun menjadi yang paling lemah di Asia. Mata uang kawasan Asia pun terpantau kompak lesu dihantam oleh keperkasaan dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg dikutip Kamis (30/11/2023) pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup anjlok 0,75% atau 115 poin ke level Rp15.510 per dolar AS, setelah ditutup menguat pada perdagangan kemarin. Sementara itu, indeks mata uang Negeri Paman Sam terpantau naik 0,21% ke posisi 102,98 pada sore ini.

Mayoritas mata uang Asia terpantau melemah terhadap dolar AS, misalnya dolar Hongkong turun 0,04%, dolar Singapura turun 0,05%, dolar Taiwan melemah 0,27%, dan won Korea terkoreksi 0,17%.

Selanjutnya, peso Filipina melemah 0,23%, rupee India turun 0,06%, yuan China terkoreksi 0,08%, ringgit Malaysia turun 0,22%, dan baht Thailand turun 0,66%. Hanya yen Jepang yang terpantau naik tipis 0,08%.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, pejabat The Fed mengatakan bahwa penurunan inflasi AS baru-baru ini dan tanda-tanda melemahnya pasar tenaga kerja menunjukkan bahwa bank sentral kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga lebih lanjut.

"Bahwa pelonggaran inflasi lebih lanjut juga dapat mendorong bank sentral tersebut untuk menurunkan suku bunganya pada awal tahun 2024," ujar Ibrahim dalam riset, Kamis, (30/11/2023).

Namun menurutnya pelaku pasar saat ini menunggu isyarat lebih lanjut mengenai inflasi AS dari data indeks harga PCE untuk bulan Oktober, yang akan dirilis hari ini.

Dia bilang, angka tersebut merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed, dan kemungkinan akan menjadi faktor dalam sikap bank sentral terhadap suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Selain itu, pasar juga sedang menunggu data pembacaan kedua produk domestik bruto (PDB) AS kuartal III/2023 yang juga akan dirilis hari ini, sementara angka PMI untuk bulan November dan pidato Ketua Fed Jerome Powell akan dirilis pada Jumat, (1/12/2023).

Dari dalam negeri, menurutnya terjadi keresahan pasar terhadap situasi perekonomian dan geopolitik global yang tengah tidak stabil, seperti inflasi dan suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS), dan China yang ekonominya melambat karena mengalami krisis properti.

Kemudian tensi geopolitik yang meningkat seperti adanya perang antara Ukraina dan Rusia, serta konflik antara Israel dan pasukan Hamas di Gaza juga memicu keresahan pasar.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp15.500 hingga Rp15.570," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper