Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Golden Eagle (SMMT) Cetak Produksi Batu Bara 1,95 Juta Ton Kuartal III/2023

Golden Eagle Energy (SMMT) mencetak produksi batu bara sebesar 1,95 juta ton hingga kuartal III/2023.
Golden Eagle Energy (SMMT) mencetak produksi batu bara sebesar 1,95 juta ton hingga kuartal III/2023./Bisnis - Aprianto Cahyo Nugroho
Golden Eagle Energy (SMMT) mencetak produksi batu bara sebesar 1,95 juta ton hingga kuartal III/2023./Bisnis - Aprianto Cahyo Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten tambang batu bara PT Golden Eagle Energy Tbk. (SMMT) mencetak produksi batu bara sebesar 1,95 juta ton hingga 9 bulan 2023.

Direktur Utama SMMT Budi Susanto mengatakan SMMT mencetak volume produksi hingga 1,95 juta ton, atau turun 20% secara tahunan dari periode yang sama tahun lalu sebesar 2,44 juta ton.

SMMT mencetak volume penjualan yang turun menjadi sebesar 1,96 juta ton sampai kuartal III/2023. Volume penjualan ini turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,25 juta ton.

Sementara itu, untuk proyeksi harga batu bara, Direktur SMMT Denny Kusmayadi menuturkan SMMT melihat memang terjadi penurunan harga batu bara pada 2023 dibandingkan tahun 2022 dan 2021. Meski demikian, SMMT memperkirakan di akhir tahun ini akan terjadi peningkatan harga batu bara.

"Prediksi harga batu bara di November-Desember 2023 ada kenaikan. Tetapi di 2024 agak melandai," ucap Denny dalam paparan publik SMMT di Jakarta, Rabu (15/11/2023).

Dia merinci, harga batu bara di sisa tahun 2023 masih akan berada di atas US$60 per ton. Sementara itu, pada 2024, SMMT memperkirakan harga batu bara melandai dengan menyentuh level US$59,2 per ton, dan turun kembali ke level US$40 per ton sampai kuartal III/2024.

SMMT memperkirakan harga batu bara akan kembali mengalami peningkatan di akhir tahun 2024 dengan menyentuh level US$50 per ton.

Sampai kuartal III/2023, SMMT membukukan peningkatan penjualan bersih menjadi Rp771,50 miliar atau naik 8% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, laba bersih SMMT turun 42% menjadi Rp177,53 miliar.

Manajemen menuturkan penurunan laba bersih ini disebabkan antara lain karena menurunnya harga komoditas batu bara dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper