Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Menguat ke Rp15.167 jelang Rilis Data Pertumbuhan Ekonomi

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat pada pembukaan hari ini, Senin (7/8/2023) jelang rilis data pertumbuhan ekonomi.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat pada pembukaan hari ini, Senin (7/8/2023) jelang rilis data pertumbuhan ekonomi. Bisnis/Himawan L Nugraha
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat pada pembukaan hari ini, Senin (7/8/2023) jelang rilis data pertumbuhan ekonomi. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan hari ini, Senin (7/8/2023) jelang rilis data perekonomian kuartal II/2023.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) melihat ekonomi Indonesia pada kuartal II/2023 sulit menyentuh level pertumbuhan 5 persen.

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad menyampaikan kondisi ekonomi RI, baik domestik maupun ekspor impor, dalam tiga bulan terakhir memang cukup berat.

“Kalau kemarin [kuartal I/2023] sudah tumbuh 5,03 persen, saya yakin kuartal II/2023 di bawah 5 persen. Kami yakin di rentang 4,8 persen – 5 persen,” ujarnya, Minggu (6/8/2023).

Pukul 09.02 WIB pagi ini, rupiah naik 2,5 poin atau 0,02 persen menjadi Rp15.167,5 per dolar AS. Indeks dolar AS naik 0,05 persen ke level 102,071.

Pada perdagangan akhir pekan, Jumat, (4/8/2023), rupiah ditutup menguat sebesar 16 poin atau 0,11 persen menuju level Rp15.170 per dolar AS. Indeks dolar AS juga mengalami pelemahan 0,04 persen ke posisi 102,49.

Analis Sinarmas Futures Ariston Tjendra mengatakan, pergerakan rupiah belum menunjukkan arah tertentu. Pergerakan rupiah akan bergantung kepada rilis data ekonomi.

"Rupiah masih bisa bergerak menguat atau melemah tergantung dengan data atau sentimen jangka pendek yang tersaji pada pekan depan, terutama perkembangan data ekonomi AS," ujar Ariston kepada Bisnis, Sabtu, (5/8/2023).

Menurutnya, perkembangan yield obligasi pemerintah AS meningkat pasca-diturunkannya peringkat utang AS oleh Fitch Rating. Sebelumnya, Fitch memangkas peringkat utang jangka panjang AS dari level tertinggi AAA menjadi AA+. 

Adapun, alasan Fitch memangkas peringkat tersebut didorong oleh perkiraan bahwa AS akan mengalami penurunan fiskal selama 3 tahun ke depan, serta perselisihan pagu utang yang berulang kali, yang dapat mengancam kemampuan pemerintah AS untuk membayar tagihannya.

Lebih lanjut Ariston mengatakan sentimen pelambatan ekonomi China, serta rilisnya data Produk Domestik Bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II/2023 pada Senin, (7/8/2023) akan memberikan gambaran ke pelaku pasar mengenai kesehatan ekonomi Indonesia yang dapat mempengaruhi kekuatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Di hari Senin, rupiah bisa saja melemah terhadap dolar AS melihat sentimen di pasar keuangan masih terlihat negatif di penutupan akhir pekan kemarin. Indeks saham AS dan sebagian Asia ditutup negatif," katanya.

Namun di sisi lain, menurutnya pasar bisa saja masuk ke nilai tukar lain di luar dolar AS merespons data tenaga kerja AS Non-Farm Payrolls yang dirilis lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa pengusaha Amerika menambahkan 187.000 pekerjaan bulan lalu, atau di bawah perkiraan sebesar 200.000 pekerjaan.

"Pekan ini, ada potensi pelemahan rupiah ke arah Rp15.250, dengan potensi penguatan di sekitar Rp15.100-Rp15.050," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper