Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Menguat Jelang Libur Hari Kemerdekaan AS

Indeks Wall Street menguat pada penutupan perdagangan Senin (3/7/2023), menjelang liburan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat.
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Wall Street menguat pada penutupan perdagangan Senin (3/7/2023), dalam perdagangan yang dipersingkat menjelang liburan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat 4 Juli ketika investor bersiap untuk paruh kedua tahun 2023 menyusul reli pasar yang kuat pada paruh pertama.

Indeks Dow Jones Industrial Average terkerek 10,87 poin atau 0,03 persen, menjadi menetap di 34.418,47. Indeks S&P 500 bertambah 5,21 poin atau 0,12 persen, menjadi berakhir di 4.455,59. Indeks Komposit Nasdaq menguat 28,85 poin atau 0,21 persen, menjadi ditutup pada 13.816,77.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir dengan di zona hijau, dengan konsumer non-primer dan real estat memimpin kenaikan masing-masing terdongkrak 1,07 persen dan 0,85 persen. Sedangkan sektor kesehatan dan teknologi masing-masing turun 0,82 persen dan 0,31 persen.

Saham-saham AS naik tipis pada Senin (3/7/2023) dalam sesi singkat yang memulai paruh kedua tahun 2023. Pasar AS ditutup lebih awal menjelang libur Hari Kemerdekaan dan akan ditutup juga pada Selasa, dengan investor berjuang untuk mencari arah setelah reli Wall Street di semester pertama.

"Tidak banyak peserta hari ini dan volumenya rendah, tapi saya pikir orang merayakan fakta bahwa kami baru saja mengguncang bulan Juni," kata Jeff Kilburg, pendiri dan kepala eksekutif KKM Financial sebagaimana dikutip Antara.

"Investor benar-benar memulai pertunjukan kembang api Jumat (30/6/2023)," tambahnya.

"Dengan saham global dan AS lebih dari 20 persen di atas posisi terendah Oktober 2022 dan prospek paruh kedua yang lebih menantang, kami yakin investor harus memposisikan diri untuk kinerja pasar saham yang lebih lesu hingga sisa tahun ini," menurut analisis yang diterbitkan oleh UBS Global Wealth Management pada Senin (3/7/2023).

Investor juga mencerna data ekonomi terbaru yang dirilis pada Senin (3/7/2023).

Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur AS pada Juni turun menjadi 46,0 dari 46,9 pada bulan sebelumnya, pembacaan terendah sejak Mei 2020, menurut data yang dirilis oleh Institute for Supply Management (ISM) pada Senin (3/7/2023).

Pembacaan Juni menandai bulan kedelapan berturut-turut PMI bertahan di bawah ambang batas 50, menandakan kontraksi di bidang manufaktur dan aktivitas ekonomi yang lebih luas.

PMI Manufaktur sekali lagi mengecewakan tetapi jasa-jasa adalah obsesi bank sentral, kata Craig Erlam, analis pasar senior di OANDA, pemasok layanan perdagangan daring multi-aset.

"Dan kemudian ada fakta bahwa manufaktur berada jauh di wilayah kontraksi bukanlah hal baru dan revisi yang kami lihat tidak benar-benar mengubah itu. Bahkan sejauh menyangkut harga, bank sentral pada tahap ini jauh lebih peduli dengan apa yang terjadi di jasa-jasa daripada manufaktur sehingga memberikan tekanan disinflasi selamat datang tidak akan cukup," kata Erlam.

Di akhir pekan ini, investor akan mengikuti serangkaian data ekonomi di pasar kerja, yang akan memberikan wawasan lebih jauh tentang jalur kebijakan moneter Federal Reserve.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper