Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekonomi China Melempem, Harga Minyak Dunia Terkoreksi

Harga minyak dunia untuk jenis WTI Crude maupun Brent terkoreksi imbas rilis data ekonomi China yang melemah dan waswasnya pelaku pasar atas kebijakan The Fed.
 Anjungan minyak/Bloomberg
Anjungan minyak/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia untuk jenis WTI Crude maupun Brent terkoreksi setelah dibuka melemah pada perdagangan pagi ini, Selasa (2/5/2023), imbas rilis data ekonomi China yang melemah dan waswasnya pelaku pasar atas kebijakan The Fed soal suku bunga AS.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 10.05 WIB, minyak mentah West Texas Intermediate amblas hingga 1,46 persen atau 1,12 poin ke level US$75,66 per barel. Sementara itu minyak mentah Brent turun 0,01 persen dan berusaha bertahan di posisi US$79,30 per barel. 

Turunnya harga minyak mentah disebut disebabkan oleh pasar yang melihat pelemahan ekonomi China serta ekspektasi kenaikan tingkat suku bunga AS

Mengutip pemberitaan Reuters, aktivitas manufaktur China pada April terpantau turun secara tak terduga data resmi menunjukkan kontraksi pertama sejak Desember dalam indeks manajer pembelian manufaktur. Pemulihan industri dan ekonomi China dari pandemi virus corona diperkirakan akan meningkatkan permintaan tahun ini.

Sementara itu pertemuan The Fed pekan ini diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi. 

Sementara European Central Bank juga akan melakukan pertemuan pada minggu ini. Kedua bank diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh pasar. Meskipun pengetatan diantisipasi, setiap penyimpangan dari ekspektasi ini mungkin melihat volatilitas untuk pergerakan minyak mentah lebih tinggi.

Kekhawatiran perbankan juga membebani minyak dalam beberapa pekan terakhir salah satunya First Republic bank yang merupakan bank terbesar ketiga di AS yang bermasalah. Regulator AS menyita First Republic Bank selama akhir pekan menjelang kesepakatan di mana JPMorgan membeli sebagian besar asetnya.

Sebelumnya minyak mentah telah terkoreksi akibat sentimen pengumuman OPEC+ yang akan mengurangi priduksi 1,1 juta barel per hari, namun Rusia mengklaim telah meminta OPEC+ membatalkan rencana itu. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper