Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mata Uang Rupiah Dibuka Melemah ke Posisi Rp15.291 per Dolar AS

Mata uang rupiah dibuka melemah 0,07 persen ke posisi Rp15.291. Sementara Beberapa mata uang Asia Pasifik terpantau dibuka bervariasi.
Karyawati menghitung uang rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (16/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati menghitung uang rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (16/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – mata uang rupiah dibuka melemah ke posisi Rp15.291 di hadapan dolar AS pada perdagangan hari ini, Jumat (3/3/2023) dihadapan dolar AS. 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,07 persen ke posisi Rp15.291 per dolar AS atau melemah 11 poin. Beberapa mata uang Asia Pasifik juga terpantau dibuka bervariasi. 

Yen jepang dibuka menguat 0,10 persen, Dolar Singapura dmenguat 0,08 persen, Dolar Taiwan menguat 0,09 persen, Peso Filipina dibuka menguat 0,39 persen Yuan China dibuka menguat  0,26 persen, Ringgit Malaysia dibuka menguat 0,04 persen dan Bath Thailand menguat 0,23 persen. 

Sementara itu mata uang yang dibuka melemah bersama rupiah yaitu Rupee India sebesar 0,10 persen. 

Sebelumnya, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksikan mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp15.270 hingga Rp15.330.

Dengan inflasi Jerman yang lebih panas dari perkiraan pada bulan Februari menambah tekanan pada Bank Sentral Eropa untuk menaikkan suku bunga setelah pembacaan kuat yang tak terduga di Prancis dan Spanyol, pasar bersiap untuk pembacaan tinggi yang tidak nyaman lainnya.

Inflasi Februari 2023 menurun dibandingkan inflasi bulan sebelumnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statisitk (BPS), inflasi IHK pada Februari 2023 menurun dari 0,34% (mtm) pada bulan sebelumnya menjadi 0,16 persen (mtm), terutama didorong oleh penurunan inflasi kelompok inti dan volatile food. 

Bank Indonesia (BI) memandang, perkembangan ini tidak terlepas dari pengaruh positif respons kebijakan moneter BI serta sinergi erat pengendalian inflasi antara BI dan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan mitra strategis lainnya melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) serta Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah  

Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara tahunan tetap terkendali sebesar 5,47 persen (yoy), meskipun sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya yang mencapai 5,28 persen (yoy). 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Ibad Durrohman

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper