Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sinyal Hawkish The Fed Dorong IHSG ke Posisi Terendah dalam Sebulan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan di tengah antisipasi investor pada risalah rapat The Fed (FOMC Minutes).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan di tengah antisipasi investor pada risalah rapat The Fed (FOMC Minutes). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan di tengah antisipasi investor pada risalah rapat The Fed (FOMC Minutes). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan pada penutupan perdagangan Rabu (22/2/2023). Indeks komposit melemah 0,92 persen ke 6.809,96 di tengah antisipasi investor pada risalah rapat The Fed atau FOMC Minutes pada Kamis dini hari waktu Indonesia.

Head of Research NH Korindo Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengemukakan pergerakan IHSG turut dipengaruhi oleh sentimen negatif dari Wall Street yang menunjukkan performa terburuk pada 2023, seiring dengan kejatuhan tiga indeks utama pada perdagangan Selasa (21/2/2023) waktu setempat.

Investor juga mengantisipasi langkah The Fed untuk mempertahankan rezim suku bunga tinggi untuk mengendalikan inflasi, seiring dengan data ekonomi yang Amerika Serikat.

“Para pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga acuan memuncak ke level yang lebih tinggi dari target awal The Fed, yaitu sekitar 5,35 persen pada Juli nanti dan secara target inflasi yang ingin dituju masih jauh di level 2 persen,” kata Liza, Rabu (22/2/2023).

Sementara itu di Eropa, level Purchasing Manager Index sektor manufaktur rata-rata masih melemah dibandingkan dengan bulan sebelumnya, seperti terjadi di Prancis dan Jerman. Konsensus pasar juga memperkirakan indeks harga konsumen Jerman untuk Februari 2023 akan berada di 8,7 persen atau di atas Januari 2023 sebesar 8,6 persen.

“Ini menandakan inflasi di Eropa masih sulit untuk ditaklukkan. Ini akan memuluskan rencana European Central Bank untuk menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Maret nanti,” lanjut Liza.

Liza mengatakan posisi penutupan IHSG merupakan yang terendah dalam sebulan terakhir dan berada di bawah support MA50, serta MA10 dan MA20.

“Seandainya besok penutupan lebih rendah lagi dari support 6.800–6.780 maka akan memberi konfirmasi IHSG harus mencari bantalan berikutnya di sekitar 6.650,” kata dia.

Untuk menetralisir ancaman turun, Liza mengatakan IHSG harus bisa bertengger kembali ke atas 6.825 dan kemudian di atas 6.890–6.900. 

Sementara itu, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati mengatakan para pelaku pasar tengah mencari indikasi yang memengaruhi The Fed untuk mulai bersikap dovish. Namun data ekonomi terkini justru terus memperlihatkan indikator yang memicu kenaikan inflasi.

“Ini berdampak pada kemungkinan sikap hawkish yang makin bertambah,” kata Ike.

Oleh sebab itu, investor saham melakukan penyesuaian dengan aksi sell off sembari menunggu dan mengamati kepastian Arah suku bunga The Fed ke depan. Dia mengatakan harapan pasar saat ini adalah data ekonomi Amerika Serikat yang bisa memicu kebijakan dovish.

“Data aktual malah menunjukkan aktivitas bisnis yang makin ekspansif dan berisiko memicu inflasi. Hal ini artinya, The Fed berkemungkinan bersikap hawkish,” tambah dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper