Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tinggalkan Level Rp100, Saham GOTO Dibuka ARB Lagi ke Rp93

Turunnya harga saham GOTO hari ini menandakan pelemahan signifikan atau ARB selama 10 hari berturut-turut.
Warga berbelanja secara daring menggunakan e-commerce Tokopedia di Jakarta, Minggu (17/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Warga berbelanja secara daring menggunakan e-commerce Tokopedia di Jakarta, Minggu (17/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Saham emiten teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) terpantau dibuka melemah dan terus menyentuh batas auto reject bawah (ARB) hari ini, bersamaan dengan pelemahan IHSG.

Pada Jumat (9/12/2022), saham GOTO dibuka turun 7 poin atau 7 persen, meninggalkan level Rp100, ke level Rp93 per saham. Turunnya harga saham GOTO hari ini membuat sahamnya mengalami ARB 10 hari berturut-turut.

Kapitalisasi pasar GOTO juga ikut turun menjadi Rp110,15 triliun, dari penutupan perdagangan kemarin yang sebesar Rp118,4 triliun.

Selain mengalami ARB 10 hari beruntun, saham GOTO juga keluar dari jajaran emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar. Berdasarkan data BEI, per 8 Desember 2022 secara berturut-turut daftar 10 big cap antaralain BBCA memiliki kapitalisasi Rp1.037 triliun, BBRI Rp726 triliun, BYAN Rp485 triliun, BMRI Rp464 triliun, TLKM Rp370 triliun, ASII Rp230 triliun, TPIA Rp202 triliun, UNVR Rp178 triliun, BBNI Rp175 triliun, dan ADRO Rp120 triliun.

Sebelumnya, Group President GOTO Patrick Cao menjelaskan fluktuasi harga saham yang terjadi di GOTO sama dengan yang terjadi dengan perusahaan publik lainnya, yang merupakan bagian dari mekanisme pasar dan dipengaruhi berbagai faktor.

Dia menjelaskan, dengan berakhirnya periode penguncian saham atau lock-up, ada kenaikan dari jumlah saham GOTO yang beredar di pasar, yang mengakibatkan peningkatan transaksi jual beli saham.

"Hal ini diakibatkan oleh beberapa hal, antara lain, investor awal yang masuk di harga rendah merealisasikan keuntungan, berakhirnya masa investasi atau fund life untuk investor finansial, dan kebutuhan likuiditas di akhir tahun," kata Patrick dalam paparan publik GOTO, Kamis (8/12/2022).

Dia melanjutkan, hal tersebut merupakan hal yang lazim bagi pemegang saham untuk mencari likuiditas setelah lock up berakhir. Apalagi, jika pemegang saham merupakan investor awal perusahaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper