Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Cuan di Atas Saham dan Obligasi, Ini Sentimen Penopang Reksa Dana Campuran

Kondisi optimal perekonomian domestik dan kombinasi portofolio yang variatif menjadi sentimen utama penopang kinerja instrumen reksa dana campuran.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 28 November 2022  |  12:20 WIB
Cuan di Atas Saham dan Obligasi, Ini Sentimen Penopang Reksa Dana Campuran
Warga mengakses informasi tentang reksa dana di Jakarta, Rabu (6/7/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Kondisi optimal perekonomian domestik dan kombinasi portofolio yang variatif menjadi sentimen utama penopang kinerja instrumen reksa dana campuran.

Berdasarkan laporan Infovesta Utama yang dikutip pada Senin (28/11/2022), reksa dana campuran mencatatkan return sebesar 4,27 persen secara year to date (ytd) hingga 25 November 2022. Kinerja tersebut berada di atas reksa dana pasar uang yang mencatatkan pertumbuhan 2,37 persen.

Direktur Utama Pinnacle Persada Investama Guntur Putra menjelaskan, aset dasar atau underlying asset pada reksa dana campuran umumnya terdiri dari kombinasi saham, obligasi, dan pasar uang. Metode pemilihan efek dan pembobotan instrumen ini pun tergantung dari masing - masing manajer investasi.

Kombinasi tersebut menurut Guntur membuat reksa dana campuran mampu mengungguli kinerja reksa dana lain. Guntur mengatakan, pada periode yang sama kenaikan reksa dana saham dan pendapatan tetap masih berada di bawah instrumen ini.

Return reksa dana saham masih lebih rendah, sementara pendapatan tetap juga masih mencatatkan kinerja negatif,” jelasnya saat dihubungi, Senin (28/11/2022).

Dari dalam negeri, kondisi makroekonomi yang optimal menjadi salah satu penopang kinerja reksa dana campuran. Hal tersebut diantaranya terlihat dari inflasi yang relatif masih terkontrol serta surplusnya neraca perdagangan, serta nilai tukar yang masih cukup kuat dibandingkan negara lainnya.

Guntur melanjutkan, kondisi ekonomi Indonesia yang positif masih akan menjadi sentimen positif yang menopang kinerja reksa dana campuran setidaknya hingga awal tahun 2023 mendatang. Selain itu, reksa dana campuran juga dapat menjadi opsi bagi investor dengan profil risiko sedang.

“Prospeknya menurut saya masih cukup baik, dari tingkat risiko juga lebih ke arah moderat. Karena dari sisi kelas aset juga menggabungkan pembobotan saham dan obligasi serta pasar uang,” katanya.

Di sisi lain, sejumlah sentimen juga berpotensi menekan kinerja instrumen ini. Guntur memaparkan, potensi kelanjutan perang Ukraina - Rusia serta kondisi geopolitik yang terus memanas dari China - Taiwan, dan juga Korea Utara dapat menjadi katalis negatif.

Selain itu, melambatnya perekonomian China juga berpotensi menjadi faktor risiko tersendiri, karena kebijakan zero covid yang mengganggu aktivitas perekonomian di China. Jika PDB China mengalami penurunan, Guntur mengatakan sentimen tersebut secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi pasar global dan juga pasar Indonesia.

“Di samping itu risiko resesi global yang terus membayangi kondisi pasar global juga merupakan faktor risiko yang harus dipertimbangkan,” imbuhnya.

Adapun, Guntur menyarankan untuk memilih reksa dana campuran yang sesuai dengan profil risiko masing – masing investor. Ia menuturkan, investor juga harus memilih produk yang sesuai dengan tujuan investasi.

“Pahami juga jenis dan karakter produk serta risikonya sebelum berinvestasi. Selain itu, kenali juga manajer investasi yang melakukan pengelolaan dana,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana raksa dana pasar uang underlying Inflasi pdb china Covid-19
Editor : Ibad Durrohman
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top