Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Proyeksi Kinerja Emiten yang Suram Ikut Menekan Indeks S&P 500

Indeks S&P 500 terkoreksi karena proyeksi pendapatan perusahaan yang suram menambah kekhawatiran yang berkembang akan perlambatan ekonomi.
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks S&P 500 terkoreksi karena proyeksi pendapatan perusahaan yang suram menambah kekhawatiran yang berkembang akan perlambatan ekonomi global.

Indeks Dow Jones Industrial Average terangkat 0,01 persen, menjadi 31.839,11 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 0,74 persen, menjadi 3.830,60 poin. Indeks Komposit Nasdaq tergelincir 228,12 poin atau 2,04 persen, menjadi ditutup pada 10.970,99 poin.

Lima dari 11 sektor utama S&P 500 mengakhiri sesi di zona merah, dengan sektor jasa komunikasi dan teknologi menderita persentase kerugian terbesar.

Ketakutan perlambatan ekonomi global bersama dengan kenaikan suku bunga yang lebih kecil dari perkiraan oleh bank sentral Kanada (BoC), terus memberi harapan bahwa Fed mungkin mempertimbangkan untuk mengurangi ukuran kenaikan suku bunga setelah pertemuan kebijakan 1-2 November.

"Hari ini pasar mengejar kenaikan selama seminggu terakhir ini," kata Matthew Keator, Managing Partner di Keator Group, sebuah perusahaan manajemen kekayaan di Lenox, Massachusetts dikutip dari Antara, Kamis (27/10/2022). "Masih ada dua pertemuan Fed di depan kita tahun ini."

Paul Kim, kepala eksekutif (CEO) di Simplify ETFs di New York, setuju. "Bank sentral mulai berkedip," kata Kim. "Ini adalah bagian dari tren yang lebih besar dan mendukung narasi perubahan arah."

S&P 500 dan Nasdaq berakhir di wilayah negatif, terseret lebih rendah oleh perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka di pasar menyusul hasil mengecewakan dari Microsoft dan Alphabet. Saham Microsoft dan Alphabet merosot, masing-masing 7,7 persen dan 9,1 persen.

Laporan suram tersebut membawa kekhawatiran atas penurunan ekonomi global yang akan datang dan menyebar ke saham megacaps profil tinggi lainnya.

Penjualan rumah AS yang baru dibangun jatuh pada September sementara suku bunga KPR mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, menambah tumpukan data yang menunjukkan lanskap ekonomi yang melemah.

Musim laporan keuangan kuartal ketiga telah bergeser ke gigi tinggi, dengan 170 perusahaan di S&P 500 telah melaporkan kinerjanya. Dari jumlah tersebut, 75 persen telah memberikan hasil yang mengalahkan konsensus, menurut Refinitiv.

"Ada banyak pengumuman pendapatan perusahaan yang menjanjikan kuartal ini," tambah Keator. "Saya tidak berpikir itu harus menjadi kenyataan bahwa kita akan terus melihat perolehan laba yang meleset secara keseluruhan."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper