Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Potensi Buy On Weakness Reksa Dana Saham Masih Terbuka, Simak

Kinerja reksa dana saham masih mampu tumbuh di tengah ketidakpastian pasar selama sepekan terakhir. Kondisi serupa diprediksi masih akan terjadi.
Warga mengakses informasi tentang reksa dana di Jakarta, Rabu (6/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Warga mengakses informasi tentang reksa dana di Jakarta, Rabu (6/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja reksa dana saham masih mampu tumbuh di tengah ketidakpastian pasar selama sepekan terakhir. Kondisi serupa diprediksi masih akan terjadi selama beberapa waktu ke depan.

Berdasarkan laporan Infovesta Utama pada Senin (10/10/2022), kinerja reksa dana saham pada periode 30 September – 7 Oktober 2022 terpantau naik 0,26 persen. Adapun, secara year to date (ytd) reksa dana saham mencatatkan return positif sebesar 1,22 persen.

Kenaikan tipis ini berbanding terbalik dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali tertekan ke level 7,026. atau melemah 0,20 persen dalam sepekan terakhir.

Salah satu sentimen domestik yang mempengaruhi kinerja reksa dana saham adalah rilis data Inflasi Indonesia meningkat sebesar 5,95 persen dibandingkan dengan 4,69 persen pada Agustus 2022. Hal itu, membuat pergerakan IHSG ditutup melemah.

Tingginya tingkat inflasi terutama didorong oleh meningkatnya biaya transportasi menjadi 16,01 persen dari sebelumnya 6,62 persen pada Agustus dan harga makanan sebesar 7,91 persen dari 7.73 persen pada Agustus lalu.

“Kenaikan inflasi tersebut merupakan dampak dari kenaikan harga BBM,” demikian kutipan laporan tersebut.

Sementara itu, dari luar negeri, rilis data klaim pengangguran AS meningkat 15 persen menjadi 219.000. Kenaikan tersebut menandakan pasar tenaga kerja yang mulai mengalami pelemahan.

Selain itu, The Fed juga akan melakukan sikap hawkish mendorong ekonomi ke dalam resesi untuk menurunkan inflasi. Presiden Fed Chicago Charles Evans mengatakan kenaikan suku bunga US hingga 125 bps sebelum akhir tahun 2022.

Adapun, dari Eropa rilis data PMI yang mengalami kontraksi ke 48,4 pada September disebabkan oleh meningkatnya biaya hidup akibat krisis. Sentimen ini membuat konsumen waspada terhadap tagihan energi yang melonjak ditengah pasokan energi yang terbatas.

Seiring dengan hal tersebut, Infovesta menilai kami kinerja reksa dana saham masih berada pada kondisi yang volatil. Investor diharapkan untuk tetap memperhatikan situasi pasar dalam berinvestasi.

“Investor juga bisa memanfaatkan momentum buy on weakness pada pasar saham untuk meminimalisir risiko kerugian,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper