Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Emas Turun, Archi (ARCI) dan Antam (ANTM) Tak Gentar

Penurunan harga emas imbas dari kebijakan kenaikan suku bunga AS diharapkan hanya sementara, ARCI dan ANTM berharap masih bisa mendulang keuntungan.
Tambang Emas Toka Tindung merupakan salah satu tambang emas terbesar yang memiliki 2 kontrak karya yang dimiliki oleh anak usaha Archi Indonesia/Dok.Perusahaan.
Tambang Emas Toka Tindung merupakan salah satu tambang emas terbesar yang memiliki 2 kontrak karya yang dimiliki oleh anak usaha Archi Indonesia/Dok.Perusahaan.

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas global kembali mengalami penurunan, imbas data pekerja AS yang kuat di atas ekspektasi dan kemungkinan Bank Sentral Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga 75 basis poin pada November. Emiten tambang emas di Indonesia berharap kondisi seperti ini hanya sementara.

Mengutip data Bloomberg, harga emas Comex mengalami penurunan 11,5 poin atau 0,67 persen ke US$1.709,30 per troy ons pada akhir perdagangan Jumat (7/10/2022). Sementara itu, harga emas spot turun 17,71 poin atau 1,03 persen kembali ke US$1.600an, tepatnya ke US$1.694,82 per troy ons.

Corporate Secretary PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) Harry Margatan mengatakan bahwa penurunan harga emas salah satunya disebabkan keputusan the Fed untuk meningkatkan suku bunga acuan.

“Melihat permintaan yang masih cukup besar terhadap komoditas emas dan terbatasnya supply, Perseroan berharap penurunan harga ini hanya respons pasar sesaat dan akan kembali normal sebagaimana harga pada akhir kuartal pertama," ungkapnya kepada Bisnis, dikutip Minggu (9/10/2022).

Sejalan, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) juga optimistis masih bisa mendulang untung dari segmen logam mulia emas kendati tren harganya masih turun.

Direktur Operasi dan Produksi PT Antam I Dewa Bagus Sugata Wirantaya mengatakan, melihat harga emas yang masih cenderung turun, Antam berupaya melakukan operation excellent, melakukan efisiensi, mengutamakan proses produksi, dan tetap agresif melakukan marketing.

“Saat ini kami lakukan investasi modernisasi logam mulia berupa penambahan mesin-mesin untuk meningkatkan kapasitas produksi dari 2,5 juta keping menjadi 2,7 juta keping. Kami juga tengah mengembangkan program brankas dan digitalisasi dan diharapkan awal 2023 proses digitaliasi logam mulia sehingga kustomer bisa lebih mudah melakukan transaksi,” kata Dewa.

Meski mengalami penurunan, Dewa menegaskan Antam juga tetap optimistis mencapai target-target perusahaan, karena emas sebagai investasi adalah produk yang anti inflasi.

“Jadi terkait harga emas masih tepat untuk safe haven dan investasi jangka panjang dan menengah,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper