Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Kembali Melorot, Nilai Tukar Kini Rp15.263 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (3/10/2022).
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (3/10/2022).

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.10 WIB, nilai tukar rupiah dibuka melemah 36,5 poin atau 0,24 persen sehingga parkir di posisi Rp15.263 per dolar AS. Indeks dolar AS terpantau turun 0,15 persen atau 0,17 poin ke level 111,94.

Sementara itu, mata uang lain di kawasan Asia terpantau dibuka turun di hadapan dolar AS. Mata uang dolar Taiwan turun 0,23 persen, ringgit Malaysia turun 0,21 persen, peso Filipina turun 0,17 persen, dan yen Jepang turun 0,01 persen.

Beberapa mata uang kawasan Asia yang terpantau menguat terhadap dolar AS pada pembukaan hari ini adalah rupee India yang naik 0,62 persen, dolar Singapura naik 0,17 persen, yuan Cina naik 0,13 persen, dan baht Thailand naik 0,01 persen.

Analis pasar keuangan Ariston Tjendra memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar akan melemah pada perdagangan awal pekan ini.  Hal ini lantaran pergerakan indeks saham Asia terpantau menurun pada pagi ini.

Turunnya indeks saham Asia tersebut mengindikasikan sentimen pasar terhadap aset berisiko terlihat negatif. Hal ini juga kemungkin dapat menahan penguatan rupiah dari perdagangan akhir pekan lalu.

"Sentimen negatif terhadap aset berisiko mungkin karena kekhawatiran pasar terhadap kenaikan inflasi global yang bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi global," ujar Ariston kepada Bisnis pada Senin (3/10/2022).

Sementara itu dolar AS disebut Ariston masih dalam konsolidasi. Ariston menyebut pasar terlihat sedikit teralihkan dari isu kenaikan suku bunga dari bank sentral AS alias The Fed ke isu perlambatan ekonomi global.

Perekonomian AS sendiri kini mendapat tekanan dari adanya kenaikan inflasi. Hal ini lantas membuat nilai tukar lainnya mengalami penaikan terhadap dolar AS untuk sementara.

Dari sentimen dalam negeri, Ariston menyebut data tingkat inflasi pada bulan September berpotensi melemahkan rupiah. Hal ini bila nilai rupiah lebih tinggi dari sebelumnya dengan masuk ke angka 5 persen dari periode yang sama pada tahun lalu.

"Tingkat inflasi yang terus meninggi bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi karena masyarakat menunda atau menahan konsumsi," jelas Ariston.

Ariston memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan melemah ke arah Rp15.300 sedangkan untuk penguatan ke arah Rp15.200.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper