Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wall Street Ditutup Bervariasi, Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS

Semua perhatian akan tertuju ke laporan pekerjaan AS pada Jumat untuk petunjuk lebih lanjut tentang jalur kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 05 Agustus 2022  |  05:48 WIB
Wall Street Ditutup Bervariasi, Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg - Michael Nagle
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat mengakhiri perdagangan Kamis (4/8/2022) dengan bervariasi karena investor mencermati berbagai data laporan kinerja emiten dengan latar belakang kenaikan suku bunga agresif oleh bank sentral global.

Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (5/8/2022), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,26 persen atau 85,68 poin ke 32.726,82, S&P 500 tergelincir 0,08 persen atau 3,23 poin ke 4.151,94, dan Nasdaq menguat 0,41 persen atau 52,42 ke 12.720,58.

Indeks saham-saham teknologi didukung oleh Amazon.com Inc. dan Advanced Micro Devices Inc. Namun pada akhir sesi perdagangan, indeks itu juga terseret oleh Fortinet Inc. setelah perusahaan memangkas perkiraan pendapatan layanannya.

Selain itu, kinerja Eli Lilly & Co., yang turun setelah meleset dari ekspektasi Wall Street untuk pendapatan kuartal kedua, membebani Indeks S&P 500. Likuiditas yang tipis di musim panas juga cenderung memperkuat pergerakan pasar saham.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga goyah sepanjang sesi, dengan tingkat tenor 10 tahun sekitar 2,66 persen setelah melewati 2,80 persen pada Rabu.

Sebuah kebingungan data ekonomi yang dirilis minggu ini meredakan kekhawatiran penurunan sementara mengisyaratkan pertumbuhan yang stabil. Tetapi pasar obligasi, terutama kurva imbal hasil obligasi AS yang terus-menerus terbalik, memberikan peringatan pada ekonomi di tengah gelombang pengetatan moneter global.

Semua perhatian akan tertuju ke laporan pekerjaan AS pada Jumat untuk petunjuk lebih lanjut tentang jalur kenaikan suku bunga Federal Reserve.

"Ada tarik menarik yang intens terjadi di ekonomi dan pasar. Di satu sisi, Anda memiliki narasi bahwa pertumbuhan yang wajar akan mendukung tekanan inflasi yang berkelanjutan dan menjaga kenaikan Fed. Narasi lainnya adalah bahwa pertumbuhan yang melambat akan mengurangi inflasi dan memungkinkan suku Bungan The Fed untuk berhenti mendaki,” kata Dan Suzuki, wakil kepala investasi Richard Bernstein Advisors.

Pada Kamis, Presiden Fed Cleveland Loretta Mester mengulangi janji bank sentral untuk menurunkan inflasi dengan menaikkan suku bunga. Rekan-rekannya, minggu ini, juga telah mendukung sikap hawkish ini, memaksa pasar untuk mengkalibrasi ulang setelah awalnya mengharapkan nada dovish yang diisyaratkan oleh Gubernur The Fed Jerome Powell minggu lalu.

Ketegangan AS-China juga tetap di antara ketidakpastian yang mengaburkan prospek. China kemungkinan menembakkan rudal ke Taiwan selama latihan militer pada Kamis, kata Jepang, bagian dari latihan lintas selat terbesar Beijing dalam beberapa dekade setelah Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengunjungi pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wall street indeks S&P 500 nasdaq dow jones

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top