Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cuan atau Bocos Setelah Kebijakan Bunga The Fed? Yield SUN Berpotensi Sentuh 8 Persen

World Government Bonds pada Minggu (31/7/2022) mencatat, tingkat imbal hasil SUN Indonesia dengan tenor 10 tahun berada di level 7,197 persen.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 31 Juli 2022  |  15:20 WIB
Cuan atau Bocos Setelah Kebijakan Bunga The Fed? Yield SUN Berpotensi Sentuh 8 Persen
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara Indonesia (SUN) diprediksi tetap fluktuatif pasca kenaikan suku bunga The Fed pekan ini.

Chief Investment Officer STAR AM Susanto Chandra menuturkan, pergerakan imbal hasil SUN Indonesia masih akan cukup volatil setelah The Fed menaikkan suku bunganya. Salah satu sentimen utama yang dapat menekan yield adalah jika inflasi AS belum terkendali setelah kenaikan suku bunga.

“Kami melihat yield SUN berpeluang mencoba ke level 8 persen jika laju inflasi masih tinggi,” katanya saat dihubungi pekan ini.

Ia menambahkan, sentimen lain yang perlu diperhatikan pelaku pasar adalah pergerakan nilai tukar dan harga komoditas.

Di sisi lain, Susanto mengatakan investor masih dapat mencermati sejumlah peluang untuk masuk ke pasar obligasi. Hal ini seiring dengan potensi penurunan harga yang terjadi akibat volatilitas nilai tukar.

“Bagi investor jangka panjang dapat melakukan pembelian secara bertahap agar memperoleh harga yang lebih optimal,” jelasnya.

Secara terpisah, Syuhada Arief – Senior Portfolio Manager, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengatakan ada sejumlah risiko yang membayangi pergerakan pasar obligasi.

Dari sisi eksternal, perkembangan konflik geopolitik dan lonjakan kasus Covid China menjadi risiko utama yang perlu dicermati karena memiliki dampak yang siginifikan pada tekanan inflasi. Ia mengatakan, hal ini dapat mempengaruhi laju perubahan kebijakan moneter, dan pembelian aset.

Sementara, dari sisi internal perkembangan harga minyak dunia, dan komoditas utama ekspor memberikan dampak yang besar terhadap beban subsidi energi, dan nilai tukar rupiah. Selain itu, laju pertumbuhan kredit menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati mengingat selama ini bank menjadi pembeli mayoritas SBN.

“Kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap juga harus dicermati efeknya dalam mengurangi likuiditasi di pasar,” katanya dikutip dari keterangan resmi.

Salah satu katalis yang menekan pergerakan pasar obligasi Indonesia adalah kelanjutan langkah The Fed yang menaikkan suku bunga acuannya. Ia memperkirakan, kebijakan The Fed tersebut terutama akan terjadi pada kuartal III/2022 mendatang.

“Kenaikan suku bunga The Fed akan membuat investor asing lebih memilih obligasi AS karena yieldnya akan naik mengikuti suku bunga,” jelasnya.

Data dari World Government Bonds pada Minggu (31/7/2022) mencatat, tingkat imbal hasil SUN Indonesia dengan tenor 10 tahun berada di level 7,197 persen. Posisi ini lebih rendah dibandingkan dengan level pada 30 Juli kemarin pada 7,310 persen.

Selama sepekan terakhir, yield SUN Indonesia menguat sebesar 29,4 basis poin. Sementara itu, dalam periode 1 bulan belakangan, imbal hasil SUN telah menguat 5,2 basis poin.

Adapun, level credit default swap (CDS) 5 tahun Indonesia per hari ini ada di level 115,04. Posisi tersebut mengindikasikan probabilitas default atau gagal bayar sebesar 1,92 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sun Kebijakan The Fed Obligasi Obligasi Pemerintah
Editor : Anggara Pernando
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top