Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

The Fed Naikkan Suku Bunga 0,75 Persen, Harga Minyak WTI Jatuh 3 Persen

The Fed memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75 persen guna menahan gempuran inflasi di AS yang menembus rekor tertinggi dalam 40 tahun terakhir.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 16 Juni 2022  |  02:03 WIB
The Fed Naikkan Suku Bunga 0,75 Persen, Harga Minyak WTI Jatuh 3 Persen
Uang dolar dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (26/4/2022) Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak WTI jatuh 3,01 persen setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga tertinggi dalam 3 dekade terakhir dan kekhawatiran pelemahan permintaan.

Pada pukul 2.30 PM, harga minyak WTI untuk pengiriman Juli 2022 menjadi US$115 per barel atau turun 3,3 persen. Penurunan yang sama juga terjadi pada minyak brent untuk pengiriman Agustus 2022. Bloomberg mencatat harga minyak brent menjadi US$118,33 per barel atau anjlok 2,34 persen secara harian.

Disebutkan pasar khawatir bahwa kenaikan suku bunga yang agresif dari The Fed akan menyebabkan perlambatan ekonomi atau bahkan resesi. Di Amerika Serikat harga bensin eceran telah berulang kali memecahkan rekor, baru-baru ini mencapai US$5 per galon. Kenaiakan harga yang tinggi ini membuat permintaan bensin turun ke level terendah secara musiman sejak 2013, dengan pengecualian 2020 ketika permintaan turun karena penguncian Covid.

"Ini membuat pasar rentan," kata Rebecca Babin, pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Management seperti dilansir Bloomberg.

Pelemahan juga muncul di bursa saham meski kenaikan suku bunga dalam jumlah terbesar sejak 1994 ini meski sudah diperkirakan sebelumnya.

“Dengan inflasi yang tidak mereda, menjadi sangat jelas bahwa Fed perlu mengambil pendekatan yang lebih agresif,” kata Mike Loewengart, E*Trade Morgan Stanley.

Dia mengatakan setelah kepastian kenaikan suku bunga, pasar berpotensi bearish. "Kita kemungkinan akan terus melihat volatilitas saat pasar mencerna norma baru. Berpegang teguh pada strategi investasi Anda selama gelombang volatilitas adalah tindakan yang solid — alias jangan panik,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak Kebijakan The Fed bursa saham

Sumber : Bloomberg

Editor : Anggara Pernando
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top