Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Dibuka Turun Jelang Putusan The Fed, Saham BBCA-TLKM Dilepas Asing

IHSG dibuka turun 0,27 persen atau 18,68 poin menjadi 7.031,19 di tengah kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pekan ini dalam FOMC Meeting.
Pengunjung beraktivitas di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/2/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung beraktivitas di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/2/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka turun seiring dengan sentimen rilis data neraca perdagangan dan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.

Pukul 09.00 WIB, IHSG turun 0,27 persen atau 18,68 poin menjadi 7.031,19. IHSG sempat naik ke posisi tertinggi di 7.046,11 beberapa saat setelah pembukaan

Terdapat 108 saham menguat pada awal perdagangan, sementara 75 saham melemah dan 186 saham bergerak di tempat. Investor asing tercatat membukukan aksi net foreign sell Rp93,34 miliar.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tercatat menjadi yang paling banyak dijual investor asing dengan net foreign sell sebesar Rp64,5 miliar.

Menyusul di belakangnya adalah saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan net foreign sell sebesar Rp27,0 miliar dan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dilego asing dengan net sell Rp1,1 miliar.

Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Dimas Pratama menyampaikan inflasi level produsen (IPP) AS kembali naik, melengkapi inflasi tinggi konsumen CPI Mei (1,0 persen MoM; 8,6 persen YoY). Data menunjukkan PPI Final Demand AS Mei catatkan inflasi 0,8 persen MoM (April 0,4 persen MoM) dan 10,8 persen YoY (April 10,9 persen YoY), seiring kenaikan harga sejumlah bahan bakar untuk proses produksi.

Kombinasi PPI dan CPI tinggi dapat memaksa the Fed menaikkan FFR Juni sebesar 75 bps, lebih tinggi dari proyeksi konsensus 50 bps. Adapun, FOMC Meeting akan berlangsung pada 14-15 Juni 2022 waktu setempat.

Bursa saham Wall Street ditutup mixed dengan yield tenor pendek UST2Y, yang lebih sensitif pada kenaikan FFR, menyentuh level 3,45 persen atau yield tertinggi sejak tahun 2007.

Dari dalam negeri, neraca dagang diproyeksikan hanya surplus US$3,5 miliar dari April senilai US$7,6 miliar, seiring larangan ekspor CPO periode tersebut. Hal ini tercermin dari cadangan devisa Mei senilai US$135,6 miliar, penurunan tiga bulan berturut-turut.

Penurunan Cadev membatasi ruang gerak BI, di tengah depresiasi rupiah yang sempat menyentuh level Rp14.700 per dolar AS. Depresiasi rupiah membuat barang impor lebih mahal, memberikan dampak kenaikan harga barang konsumsi, yang kemudian menambah tekanan pada inflasi domestik.

"IHSG bergerak upward hari ini, dengan kisaran 6.950-7.150," paparnya dalam publikasi riset.

Direktur MNC Asset Management Edwin Sebayang memperkirakan IHSG bakal kembali ke zona merah seiring sejumlah sentimen negatif yang menaungi perdagangan.

Dia menyebutkan indeks DJIA turun tajam selama 4 hari berturut-turut sebesar 2663.4 poin atau 8,27 persen dan dalam perdagangan Selasa (14/6/2022) kembali terkoreksi sebesar 151.91 poin atau 0,5 persen.

Dengan demikian, selama 5 hari Indeks DJIA turun tajam sebesar 2815,3 poin 8,77 persen mengantisipasi naiknya Fed Fund Rate (FFR) sebesar 75 bps yang akan diumumkan pada 15 Juni 2022 sebagai respons naiknya inflasi tertinggi selama 41 tahun terakhir.

"Tingginya inflasi AS dan akan agresifnya The Fed menaikkan FFR bukan hanya berdampak atas tajamnya kejatuhan Indeks DJIA tetapi juga berdampak atas naiknya yield obligasi AS segala tenor khususnya tenor 10 tahun yang saat ini sudah mendekati level 3,5 persen yang tentunya juga berdampak atas turunnya harga obligasi Indonesia sebagai dampak dari naiknya yield obligasi Indonesia yang sudah mencapai 7,53 persen untuk tenor 10 tahun," paparnya, Rabu (15/6/2022).

Menurutnya, jika kejatuhan tajam Indeks DJIA dan naiknya yield obligasi AS dikombinasikan dengan berlanjutnya kejatuhan harga beberapa komoditas seperti minyak, batu bara, emas, nikel, dan timah bakal menjadi sentimen negatif bagi IHSG.

Selain itu, penurunan nilai tukar rupiah atas dollar AS juga terus terjadi bersamaan dengan penantian pengumuman reshuffle kabinet berpotensi menjadi sentimen negatif bagi perdagangan Rabu ini.

Pada Selasa (14/6/2022) kemarin, IHSG berhasil berbalik menguat 0,78 persen atau 54,44 poin dan akhirnya parkir ke level 7.049,88.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper