Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bursa Saham AS Kompak Tutup Akhir Pekan dengan Koreksi, Ada Apa?

Bursa saham AS melanjutkan tren penurunan mingguannya setelah data perekrutan tenaga kerja yang kuat membuka jalan bagi Federal Reserve untuk tetap agresif dalam memerangi inflasi.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 04 Juni 2022  |  06:52 WIB
Bursa Saham AS Kompak Tutup Akhir Pekan dengan Koreksi, Ada Apa?
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham AS melanjutkan tren penurunan mingguannya setelah data perekrutan tenaga kerja yang kuat membuka jalan bagi Federal Reserve untuk tetap agresif dalam memerangi inflasi.

S&P 500 merosot 1,6 persen pada perdagangan sore, mendorong indeks acuan ke wilayah negatif untuk minggu kedelapan dalam sembilan periode terakhir. Selain itu, Nasdaq 100 jatuh 2,7 persen, The Dow Jones Industrial Average koreksi 1,1 persen dan The MSCI World index turun 1,1 persen.

Tesla Inc. juga menyeret saham teknologi lebih rendah pada hari Jumat setelah laporan perusahaan berencana untuk mengurangi tenaga kerja yang digaji. Sementara itu, saham energi menguat karena minyak mentah mencapai $120 per barel di New York.

Penurunan bursa saham pada hari Jumat terjadi setelah data perekrutan Mei melampaui ekspektasi, menunjukkan pasar tenaga kerja tetap cukup kuat bagi The Fed untuk menaikkan suku dengan cepat karena berjuang melawan kenaikan harga yang tak terkendali.

Bank sentral AS diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada dua pertemuan berikutnya. Peluang yang diturunkan pasar untuk kenaikan ketiga sebesar itu pada bulan September bertahan stabil di dekat 85 persen setelah laporan pekerjaan.

"Paruh kedua tahun 2022 akan menjadi perjalanan roller coaster bagi investor kecuali Fed mampu mengendalikan inflasi tanpa hard landing," kata Peter Essele, kepala manajemen portofolio di Commonwealth Financial Network dikutip dari Bloomberg, Sabtu (4/6/2022).

"Sebagian besar investor tampaknya bertaruh pada skenario crash-and-burn pada saat ini karena kekhawatiran resesi berlimpah, dan pasar ekuitas gagal mengembangkan momentum positif apa pun,” imbuhnya

Investor tetap terikat pada data ekonomi dan bagaimana hal itu akan berdampak pada laju pengetatan moneter AS, karena meningkatnya kekhawatiran bahwa Fed yang ketat dapat membuat ekonomi terbesar dunia itu ke dalam resesi. Laporan pekerjaan yang kuat meredam beberapa kekhawatiran bahwa pertumbuhan melambat terlalu tajam, sementara pada saat yang sama membuka jalan bagi The Fed untuk tetap agresif.

Nonfarm payrolls AS Mei naik 390.000 dibandingkan dengan perkiraan 318.000, menurut survei ekonom Bloomberg. Sementara itu, tingkat pengangguran tetap tidak berubah di 3,6% dalam sebulan, dibandingkan ekspektasi 3,5%.

“Ekuitas berjangka awalnya bereaksi negatif terhadap laporan tersebut. Kami mencari volatilitas untuk melanjutkan karena investor berjuang untuk menemukan kelipatan yang sesuai pada rekor pendapatan. Namun, pekerjaan penuh di AS adalah penyangga yang kuat terhadap risiko perlambatan pertumbuhan global,” kata John Lynch, kepala investasi untuk Comerica Wealth Management.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as dow jones indeks standard & poor's 500 nasdaq
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top