Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Temukan Cadangan Baru, Total Batu Bara IATA Sentuh 43 Juta Ton

Tambang batu bara milik PT MNC Energy Investments Tbk. (IATA) kembali menemukan tambahan cadangan baru. IATA menemukan total tambahan cadangan sekitar 43 juta metrik ton (MT) batu bara.
Annisa Kurniasari Saumi
Annisa Kurniasari Saumi - Bisnis.com 30 Mei 2022  |  11:01 WIB
Temukan Cadangan Baru, Total Batu Bara IATA Sentuh 43 Juta Ton
Sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (14/1/2022). ANTARA FOTO - Nova Wahyudi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Tambang batu bara milik PT MNC Energy Investments Tbk. (IATA) kembali menemukan tambahan cadangan baru. IATA menemukan total tambahan cadangan sekitar 43 juta metrik ton (MT) batu bara.

Menurut Komite Cadangan Mineral Indonesia (KCMI), salah satu Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang baru saja diakuisisi oleh IATA, PT Arthaco Prima Energy (APE) berhasil menemukan tambahan cadangan sebanyak 37 juta MT dengan GAR 2.500–3.250 kg/kcal pada program pengeboran APE Tahap 1 dan 2 di atas lahan seluas 660 Ha, dari total area yang dapat dieksplorasi seluas 15.000 Ha.

Head of Investor Relations IATA Natassha Yunita dalam keterangannya mengatakan, IATA juga melakukan pengeboran pada IUP lainnya, yaitu PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE), dan KCMI melaporkan penemuan cadangan untuk IBPE tahap 1 sejumlah 6,22 juta MT dengan GAR 3.375 kg/kcal di area seluas 960 Ha, dari total area yang dapat dieksplorasi seluas 15.000 Ha.

"Dengan tambahan laporan KCMI ini, cadangan batu bara terbukti dari 4 IUP yang dimiliki oleh IATA naik menjadi 201,32 juta MT, dari sebelumnya 158,68 juta MT," kata Natassha, Senin (30/5/2022).

Dengan menggunakan harga rata-rata batu bara HBA dari tahun 2021 hingga Mei 2022, kegiatan penambangan APE dan IBPE akan menghasilkan Net Present Value (NPV) masing-masing sebesar US$220,4 juta dan US$34,9 juta, dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 55,2 persen dan 59,5 persen, Break-Even Point (BEP) sebesar 7,29 juta MT dan 1,94 juta MT, serta Payback Period masing-masing 2,06 tahun dan 1,54 tahun.

Dia melanjutkan, penemuan cadangan dan sumber daya batu bara akan terus meningkat karena pengeboran APE dan IBPE yang saat ini telah dilakukan secara kolektif, belum mencapai 15 persen dari total area yang dapat ditambang. Pengeboran APE tahap 3 dijadwalkan segera selesai pada kuartal ini, sedangkan pengeboran tahap 4 dijadwalkan akan selesai pada pertengahan kuartal berikutnya.

APE dan IBPE masing-masing memiliki IUP operasi seluas 15.000 Ha di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Lokasi penambangan APE hanya berjarak 12,5 km dari sungai dan sekitar 108 km ke area transhipment di pelabuhan Tanjung Buyut.

Sedangkan lokasi penambangan IBPE berjarak 5 km dari pelabuhan dan memiliki jarak yang sama yaitu 108 km ke area transhipment di pelabuhan Tanjung Buyut. Baik APE maupun IBPE ditargetkan untuk mulai berproduksi pada tahun ini.

Angka cadangan diatas belum memperhitungkan cadangan dari IUP lainnya, PT Bhumi Sriwijaya Perdana Coal–South (BSPC-S), PT Primaraya Energi (PE), PT Titan Prawira Sriwijaya (TPS), PT Sriwijaya Energi Persada (SEP), dan PT Energi Inti Bara Pratama (EIBP) yang masih perlu pengeboran lanjutan.

Kegiatan pengeboran masih terus dijalankan dan cadangan terbukti akan terus bertambah, jika hasil eksplorasi menunjukkan temuan batu bara baru. IATA mengestimasi cadangan batu bara untuk semua IUP mencapai minimal 600 juta MT.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara mnc iata
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top