Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Kisah Toto Sugiri dengan Harta Rp35,75 Triliun, Saham DCII Meroket 10.364 Persen

Kini Toto Sugiri yang berusia 68 itu bukan sekadar crazy rich Indonesia. Dia sudah menjadi salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan diperkirakan mencapai US$2,5 miliar.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 23 Maret 2022  |  09:13 WIB
Kisah Toto Sugiri dengan Harta Rp35,75 Triliun, Saham DCII Meroket 10.364 Persen
Otto Toto Sugiri, mendulang kekayaan berkat saham data center PT DCI Indonesia Tbk. (DCII).
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Otto Toto Sugiri sebenarnya telah menjadi miliarder saat menjual 80 persen kepemilikan saham Sigma kepada PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) senilai US$35 juta pada 2007.

Kemudian dalam perjalanan karirnya, dia melihat kesempatan sekali dalam seumur hidup. Saat itu tahun 2011, pengggunaan internet dan website di Indonesia sedang booming.

Untuk memastikan keamanan data, pemerintah merancang undang-undang yang mewajibkan informasi online disimpan di Indonesia daripada di luar negeri. Itu berarti kebutuhan besar terhadap pusat data lokal.

Mengutip Bloomberg, Rabu (23/3/2022) Toto Sugiri bersama enam mitra mendirikan PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), perusahaan data center yang menjadi pemimpin di Indonesia dengan lebih dari 200 klien. Sejak listing tahun lalu, saham DCI telah melonjak lebih dari 10.000 persen.

Pada 6 Januari 2021, DCII resmi go public dengan harga IPO Rp420 per saham.  Sementara itu harga terakhir saham DCII saat ini berada di posisi Rp43.950. Artinya, saham DCII telah meroket 10.364 persen.

Kini Toto Sugiri yang berusia 68 itu bukan sekadar crazy rich Indonesia. Dia sudah menjadi salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan diperkirakan mencapai US$2,5 miliar atau setara Rp35,75 triliun (asumsi kurs Rp14.300), menurut Bloomberg Billionaires Index.

“Saya masih suka makan gado-gado. Menjadi kaya tidak akan mengubah saya,” katanya dalam wawancara awal Maret dari pusat data DCI di Cibitung.

Sugiri memiliki 30 persen saham DCI, sementara co-founder Han Arming Hanafia dan Marina Budiman, yang juga menjabat sebagai presiden komisaris perusahaan, masing-masing memiliki saham senilai US$1 miliar dan US$1,6 miliar. Taipan Anthoni Salim, yang kerajaan bisnisnya mencakup makanan hingga telekomunikasi dan real estat, adalah pemegang saham terbesar keempat DCI dengan kepemilikan 11 persen saham.

Toto Sugiri memulai karirnya sebagai programmer IT di Jerman setelah lulus dari universitas elit di Aachen, sebuah kota di dekat perbatasan Belgia dan Belanda yang terkenal dengan spa dan sumber air panas kuratifnya.

Dia pindah kembali ke Indonesia pada tahun 1980-an dan melakukan beberapa program untuk perusahaan lokal sebelum bergabung dengan pemberi pinjaman keluarganya, PT Bank Bali, sekarang bernama PT Bank Permata, di mana dia membantu mendirikan departemen IT-nya.

Setelah enam tahun di bank, Sugiri pergi untuk mengepalai PT Sigma Cipta Caraka, perusahaan perangkat lunak yang diambil alih PT Telkom Indonesia pada 2007, memberinya rejeki nomplok.

Pada 1994, ia mendirikan PT Indointernet Tbk. (EDGE), penyedia layanan internet pertama di Indonesia, yang 17 persen sahamnya masih ia miliki. Secara keseluruhan, dia mendirikan lebih dari 20 perusahaan.

DCI telah diuntungkan dari transformasi digital di Indonesia lantaran sebagian besar penduduknya adalah anak muda dan paham web. Ekonomi digital Indonesia mencapai US$70 miliar tahun lalu, naik 49 persen dari tahun 2020, menurut laporan Google, Temasek Holdings Pte dan Bain & Co.

Dengan pangsa pasar 62 persen, laba DCI melonjak 43 persen tahun lalu dan pendapatan naik menjadi Rp871,2 miliar.

Namun kesuksesan perusahaan menimbulkan kontroversi. Lonjakan saham mendorong suspensi di Bursa dan penyelidikan manipulasi saham. Saat proses penyelidikan berlangsung, Toto Sugiri dan rekan pendirinya berjanji untuk tidak berpisah dengan saham mereka, mengalihkan kepemilikan mereka ke saham yang tidak dapat diperdagangkan pada Agustus 2021.

“Kami tidak ingin orang berpikir kami mencoba mempengaruhi pasar. Ini adalah bagian dari komitmen kami sebagai pendiri,” katanya.

Sugiri mengatakan dia terbuka untuk menjual lebih banyak sahamnya, meskipun untuk saat ini bukan pada saham DCII.

Toto Sugiri tercatat memiliki investasi di perusahaan teknologi termasuk perusahaan e-commerce PT Tokoplas E-Commerce Indonesia, penyedia layanan PT Fortress Data Services dan pasar crypto PT Indodax Nasional Indonesia. Tahun lalu, dia dan co-founder DCI-nya melepas 47 persen kepemilikan mereka di Indointernet dengan valuasi 42 persen lebih tinggi dari harga IPO.

Saya tidak memiliki ambisi untuk memiliki perusahaan seumur hidup saya. Secara filosofis, perusahaan hanyalah sarana bagi manusia untuk menciptakan sesuatu yang berguna dan untuk kebaikan manusia,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

orang terkaya DCI Indonesia Indointernet Toto Sugiri

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top