Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Reksa Dana Dolar Semakin Diminati, MI Tingkatkan Kerja Sama Dengan Perbankan

Kelanjutan pemulihan ekonomi global dan laju inflasi yang tinggi membuat reksa dana berdenominasi dolar AS menjadi salah satu instrumen yang patut dicermati oleh investor.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 20 Februari 2022  |  16:07 WIB
Uang dolar dan rupiah di salah satu money changer di Jakarta, Rabu (16/2/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Uang dolar dan rupiah di salah satu money changer di Jakarta, Rabu (16/2/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Kelanjutan pemulihan ekonomi global dan laju inflasi yang tinggi membuat reksa dana berdenominasi dolar AS menjadi salah satu instrumen yang patut dicermati oleh investor.

Seiring dengan hal tersebut, perusahaan manajer investasi (MI) akan meningkatkan kerja sama dengan perbankan untuk mempreluas penawaran produk-produk jenis ini.

Chief Investment Officer Star AM Susanto Chandra mengatakan, prospek reksa dana berdenominasi dolar masih cukup positif untuk tahun ini. Hal tersebut seiring dengan prospek pemulihan ekonomi global yang berlanjut pada tahun 2022.

“Reksa dana dolar AS masih bagus untuk tahun ini, sehingga masih cukup menarik untuk dikoleksi,” jelasnya saat dihubungi Bisnis pekan ini.

Menurutnya, prospek reksa dana saham berbasis dolar AS akan lebih baik dibandingkan dengan reksa dana pendapatan tetap. Pasalnya, laju inflasi yang tinggi secara global membuat tekanan pada pasar obligasi lebih besar.

Seiring dengan sentimen tersebut, Susanto merekomendasikan investor untuk terus mencermati kondisi pasar global sebelum masuk ke instrumen ini. Menurutnya, strategi pembelian secara bertahap dapat dilakukan pada reksa dana saham berbasis dolar AS untuk mendapatkan return yang optimal.

Adapun, Star AM saat ini tengah menjalin kolaborasi dengan perbankan untuk menjual produk reksa dana dolarnya. Hal ini juga akan meningkatkan diversifikasi alternatif produk bagi nasabah perbankan.

Susanto mengatakan, kerja sama tersebut diharapkan terealisasi pada pertengahan tahun 2022.

“Sehingga, para nasabah juga guna memanfaatkan volatilitas kelas aset saham dolar AS saat ini,” ujarnya.

Sementara itu, Eri Kusnadi, Director Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM) mengatakan, kebutuhan masyarakat atas tren investasi pada pasar saham global, khususnya di sektor teknologi, terus mengalami pertumbuhan dan berkembang secara signifikan.

Seiring dengan hal tersebut, BPAM juga telah merilis produk-produk tematik seperti Batavia Technology Syariah Equity USD yang memiliki aset dasar perusahaan-perusahaan sektor teknologi di AS.

“Reksa dana jenis ini menjadi sesuatu yang diminati investor, baik sebagai sarana diversifikasi portofolio maupun ikut menikmati pertumbuhan di pasar saham global,” jelasnya belum lama ini.

Guna meningkatkan penawaran produk ini, BPAM bekerja sama dengan PermataBank. Djumariah Tenteram, Direktur Retail Banking PermataBank mengatakan hal ini merupakan bukti komitmen kerja sama antara PermataBank dan BPAM yang telah terjalin dengan baik dan berkelanjutan.

Kolaborasi strategis antara PermataBank dan BPAM dalam menawarkan produk-produk reksa dana tematik diharapkan dapat menjawab keinginan serta kebutuhan pasar dan investor.

“PermataBank berkomitmen untuk terus beradaptasi dengan memberikan kemudahan akses pada produk investasi yang memberikan nilai tambah bagi investor melalui PermataMobile X, mobile banking kami. Investor dapat dengan mudah melakukan investasi semudah melakukan kegiatan digital lainnya dalam genggaman,” ujarnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi dolar as manajer investasi reksa dana
Editor : Pandu Gumilar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top