Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bitcoin Cs Terus Volatil, Ini Aset Kripto Alternatif yang Lebih Stabil

Tantangan terbesar bitcoin adalah volatilitas yang tinggi. Lalu, ada siklus boom and bust yang membuat berbagai institusi masih ragu mengadopsi Bitcoin.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 12 Februari 2022  |  11:47 WIB
Ilustrasi token aset mata uang kripto - Freepik
Ilustrasi token aset mata uang kripto - Freepik

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah volatilitas pasar utama bursa crypto seperti Bitcoin dan Ethereum, para investor aset crypto dapat memanfaatkan jenis aset lain seperti stable coin.

Mengutip coinmarketcap.com, hingga pukul 16.30 WIB, harga Bitcoin (BTC) turun 1,91 persen dalam 24 jam terakhir ke harga US$43.514,61 dengan kapitalisasi pasar mencapai US$825,96 miliar. Sementara itu, harga Ethereum (ETH) turun 3,26 persen ke harga US$3.100,4.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan investor kembali  melakukan pembelian terhadap Bitcoin (BTC) dan lain-lain menjelang data utama harga konsumen AS yang dirilis pada Kamis (11/2/2022).

Angka CPI mungkin menawarkan indikasi baru tentang laju pengetatan moneter Federal Reserve, dan investor bersiap untuk angka yang lebih tinggi dari perkiraan yang akan menandakan kenaikan suku bunga yang lebih agresif.

Presiden Federal Reserve Cleveland Loretta Mester pada Rabu mengatakan bahwa dia tidak melihat kasus yang menarik untuk memulai dengan kenaikan suku bunga 50 basis poin.

Namun, Mester menambahkan bahwa kenaikan suku bunga di masa depan setelah Maret akan tergantung pada kekuatan inflasi dan seberapa moderat atau bertahan.

Selain itu, JPMorgan. Bank asal Amerika Serikat (AS), menilai bitcoin rata-rata di harga US$38.000 per koin merupakan nilai yang wajar tahun ini. 

Tantangan terbesar bitcoin adalah volatilitas yang tinggi. Kemudian, ada siklus boom and bust yang membuat berbagai institusi masih ragu mengadopsi Bitcoin.

Meski hanya menyebut Bitcoin, tetapi kajian JPMorgan berpengaruh terhadap hampir seluruh aset kripto. Maklum, Bitcoin adalah aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar. Apa yang terjadi di bitcoin bisa mempengaruhi aset kripto lainnya.

Di sisi lain, saat ini tersedia berbagai pilihan dalam melakukan investasi, dari mulai investasi dengan menabung di bank, membeli emas, hingga instrumen pasar modal seperti saham. 

Namun belakangan ini ada alternatif pilihan investasi baru yang tengah ramai diperbincangkan yaitu cryptocurrency. Aset crypto seperti Bitcoin, Ethereum, dan aset crypto lainnya menjadi pilihan untuk melakukan investasi. 

Aset crypto tersebut dikenal dengan volatilitas harganya, tetapi ada beberapa aset crypto yang dikenal dengan stablecoin yang dirancang memiliki nilai mengacu pada aset komoditas tertentu.

Stablecoin adalah aset crypto yang secara khusus dirancang untuk memiliki nilai yang sama dengan aset tertentu contohnya mata uang dolar AS, atau komoditas lain seperti emas. 

Secara sederhana, stablecoin sebagai mata uang crypto yang menjembatani aset crypto dengan komoditas tertentu sehingga dapat menawarkan harga yang relatif stabil karena didukung dengan aset cadangan. 

Stablecoin memiliki berbagai keunggulan seperti memungkinkan pemiliknya untuk dapat melakukan transfer aset crypto dengan murah dan cepat ke seluruh dunia layaknya aset crypto lainnya. 

Stablecoin ini pada dasarnya menggabungkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki aset crypto dan mata uang fiat atau aset asli dengan pemrosesan transaksi yang cepat serta menjaga keamanan atau privasi yang dimiliki aset crypto, dan nilai yang dimiliki mata uang fiat atau aset asli.

Chief Marketing Officer Pintu Timothius Martin menjelaskan dunia cryptocurrency terdapat dua stablecoin yang bisa disebut sebagai pionir yaitu Tether dan USDC. 

Tether atau USDT sendiri adalah salah satu pionir stablecoin yang diluncurkan pada tahun 2014. Setiap USDT yang dirilis akan dijamin dengan jumlah reserve dolar AS yang sama. 

"Saat ini, USDT adalah salah satu stablecoin paling populer berdasarkan kapitalisasi pasar. Sedangkan untuk USDC diluncurkan pada tahun 2018 merupakan stablecoin yang dikelola bersama oleh perusahaan cryptocurrency Circle dan Coinbase," ungkapnya.

Nilai USDC sebanding 1:1 dengan dolar AS dan merupakan stablecoin terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar.

Timo menambahkan, untuk pemula yang ingin memulai berinvestasi pada aset crypto, stablecoin bisa menjadi langkah awal berinvestasi.

Bagi pemula yang masih dalam proses pengenalan di dunia cryptocurrency, stablecoin seperti USDT atau USDC bisa menjadi pilihan yang memiliki resiko volatilitas lebih kecil, sambil membekali diri dengan informasi lebih banyak lagi tentang berbagai project-project crypto yang ingin diinvestasikan. 

"Di aplikasi Pintu, investor juga bisa memanfaatkan fitur Pintu Earn yang akan memberikan bonus bunga setiap jamnya terhadap stablecoin yang disimpan. Jadi aset cryptonya tetap bekerja dan memberikan nilai tambah,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa berjangka bitcoin mata uang kripto aset kripto
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top