Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

NFT Semakin Populer di Indonesia, Pemerintah Mesti Gercep Rancang Regulasi

Untuk mengembangkan pasar NFT di Indonesia, pemerintah dan otoritas terkait harus mendukung alih teknologi yang diperlukan.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 22 Desember 2021  |  16:01 WIB
Ilustrasi NFT - istimewa
Ilustrasi NFT - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah dan pemangku kepentingan terkait perlu bergerak cepat dalam merancang regulasi untuk pasar Non Fungible Token (NFT) yang semakin populer. Hal ini diperlukan guna melindungi para investor yang masuk pada aset ini.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menuturkan, prospek perkembangan NFT ke depannya akan semakin baik seiring dengan akselerasi perkembangan teknologi. Menurutnya, masyarakat akan semakin berminat untuk berinvestasi ke aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum.

Hal ini dinilai akan turut mengerek naik popularitas aset NFT yang juga menggunakan teknologi blockhain di kalangan masyarakat.

“Apalagi, kebanyakan yang masuk ke NFT ini adalah generasi milenial, yang tidak bekerja tapi melakukan transaksi di kripto melalui NFT ini. Sehingga, mereka dapat memiliki income dengan mentransaksikan NFT,” ujarnya saat dihubungi pada Rabu (22/12/2021)

Meski demikian, ia juga mengingatkan untuk mengembangkan pasar NFT di Indonesia, pemerintah dan otoritas terkait harus mendukung alih teknologi yang diperlukan.

Selain itu, regulasi-regulasi terkait pengembangan pasar ini juga perlu dirancang dengan optimal. Ia mengatakan, pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan pemangku kepentingan lain wajib berkolaborasi membuat peraturan-peraturan terkait tata cara transaksi NFT, pemberian izin kepada pedagang, dan lainnya.

“Harus ada regulasi yang jelas, jangan sampai NFT ini digantung karena pemerintah juga berpotensi mendapatkan pemasukan dari pajaknya. Selain itu, masyarakat yang ingin berinvestasi di aset ini juga perlu dilindungi,” katanya.

Sebelumnya, Nadya Ivanova, COO L'Atelier BNP Paribas, firma riset pasar berkembang yang berkolaborasi dengan Nonfungible.com menjelaskan dalam laporan tentang NFT di bulan Februari, kekuatan terbesar teknologi ini juga merupakan salah satu kelemahan utamanya.

Siapa pun di internet dapat membuat NFT dari apa saja, yang berarti ada banyak token yang "sangat buruk" di luar sana, kata Ivanova dalam sebuah wawancara. Dibutuhkan mata yang terlatih untuk menyaring apa yang layak dikoleksi atau diinvestasikan.

"Itu juga berlaku untuk pasar seni fisik - ini biasanya ruang bagi yang berpengetahuan luas. Sama halnya dengan seni NFT," kata Ivanova, seperti dikutip melalui Business Insider.

Meskipun Ivanova melihat pasar NFT pada akhirnya akan mengalami kejenuhan dan bergabung dengan tren mainstream lainnya, dia menyadari beberapa risiko tambahan dan ketidakpastian yang harus dipertimbangkan kolektor baru tentang NFT.

Pasar NFT mengalami volatilitas yang sangat besar, kata Ivanova, sebagian karena belum ada mekanisme untuk membantu masyarakat menentukan harga aset. Selama tahun 2020, nilai beberapa jenis NFT paling populer melonjak sekitar 2.000 persen, menurut laporan L'Atelier.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cryptocurrency mata uang kripto NFT
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top