Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cadangan Devisa November 2021 Naik, Rupiah Lanjut Menguat

Beriringan dengan menguatnya rupiah, mata uang lain di kawasan Asia yang juga terpantau terapresiasi terhadap dolar AS.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 08 Desember 2021  |  15:45 WIB
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada Rabu (8/12/2021), beriringan dengan mayoritas mata uang lain di kawasan Asia. Penguatan mata uang garuda pada hari ini juga didukung oleh peningkatan cadangan devisa November 2021. 

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup kembali menguat 0,15 persen atau 21 poin ke posisi Rp14.357 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS terpantau melemah 0,23 persen ke level 96,15 pada pukul 15.15 WIB. 

Beriringan dengan menguatnya rupiah, mata uang lain di kawasan Asia yang juga terpantau terapresiasi terhadap dolar AS diantaranya mata uang baht Thailand naik 0,36 persen, won Korea Selatan naik 0,31 persen, yuan China naik 0,17 persen dan yen Jepang naik 0,16 persen terhadap dolar AS. 

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengungkapkan pasar terus memantau perkembangan posisi cadangan devisa November 2021 yang mengalami peningkatan setelah pada Oktober lalu menurun. 

Ibrahim menyampaikan Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa pada November sebesar US$145,9 miliar atau naik tipis US$0,4 miliar dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar US$145,5 miliar. 

“Peningkatan posisi cadangan devisa pada November 2021 dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa sentra penarikan pinjaman luar negeri pemerintah,” jelas Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (8/12/2021). 

Dia menjelaskan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,3 bulan impor atau 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ini pun berada di atas standar kecukupan internasional yang sekitar 3 bulan impor. 

Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Ditambah lagi, survei konsumen BI pada November 2021 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi Indonesia masih terus menguat. 

Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) November 2021 sebesar 118,5 atau lebih tinggi dari 113,4 pada Oktober 2021.

Sementara itu, dari sentimen global, Ibrahim menjelaskan bahwa dolar AS melemah didorong oleh turunnya imbal hasil Treasury AS dan investor saat ini menunggu data inflasi AS dan China yang akan dirilis besok, Kamis dan data indeks harga konsumen AS yang keluar sehari setelahnya. 

Lalu juga terdapat sentimen kekhawatiran varian omicron Covid-19 meski dipaparkan tidak terlalu parah, tetapi vaksin yang ada juga disebutkan tidak mampu memberikan perlindungan penuh. 

Berdasarkan sentimen tersebut, Ibrahim pun memprediksi pergerakan rupiah esok hari, Kamis (9/12/2021) akan ditutup menguat.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp14.330 - Rp14.380,” tutupnya.   


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kurs dolar as Rupiah
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top