Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

China Gencar Berantas Cryptocurrency, Bitcoin Cs Masih Menarik?

Kemunculan ancaman terhadap sistem perbankan merupakan masalah serius. Hal ini memicu pemerintah China merasa perlu membatasi penggunaan mata uang kripto.
Koin kripto Shiba Inu dan Bitcoin/chroniclelive.co.uk
Koin kripto Shiba Inu dan Bitcoin/chroniclelive.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA – Upaya pemerintah China dalam membatasi pergerakan pasar mata uang kripto (cryptocurrency) diyakini tidak akan mengurangi potensi upside untuk investor yang memegang aset ini.

Komisaris Utama PT HFX Internasional Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, aset digital tidak mungkin dihapuskan ditengah tren perkembangan teknologi.

Menurutnya, munculnya ancaman terhadap sistem perbankan merupakan masalah serius. Hal ini memicu pemerintah China merasa perlu membatasi penggunaan mata uang kripto.

“Kemunculan regulasi digital atau kebijakan ekonomi yang berfungsi untuk membatasi dari China menurut saya masih wajar,” katanya saat dihubungi pada Selasa (23/11/2021).

Meski muncul upaya pembatasan dari negara-negara seperti China, Sutopo mengatakan aset-aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum dan lainnya masih layak dikoleksi. Hal ini seiring dengan sejumlah sentimen positif yang membayangi pasar kripto selama beberapa hari belakangan.

Ia menjelaskan, harga Bitcoin dan Ethereum mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa setelah rilis angka inflasi AS yang menunjukkan tekanan harga pada tertinggi 30 tahun. Selain itu, pada pekan ini akan ada laporan inflasi yang menjadi pedoman The Fed, yaitu PCE dalam penentuan suku bunga dan kebijakan moneter.

“Jadi, selama laporan Inflasi tetap tinggi, kemungkinan investor masih akan memenuhi kantong investasi mereka pada aset Bitcoin dan kripto lainnya,” katanya.

Sutopo menambahkan, awalnya Bitcoin dan aset kripto lainnya diciptakan untuk tidak terpengaruh oleh situasi fundamental ekonomi dan politik. Kini aset crypto juga sudah terpengaruh oleh kondisi fundamental dunia seiring dengan perkembangan dinamika global.

Senada, Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan isu pengetatan kebijakan untuk aset kripto di China bukanlah hal baru. Masalah legitimasi dan regulasi memang telah menjadi isu laten bagi perkembangan aset-aset kripto.

“Tetapi, seiring dengan perkembangannya, kini aset-aset kripto semakin kuat legitimasinya. Sehingga, pemerintah China juga merasa perlu meregulasi dan membatasi pasar ini,” katanya.

Ia melanjutkan, potensi return pada aset kripto masih cukup terbuka. Meski demikian, ia mengingatkan para investor untuk selektif dalam memilih aset kripto.

“Untuk yang sudah jelas seperti Bitcoin atau Ethereum dapat dicermati. Tetapi, memang harus sangat berhati-hati saat ini karena ada banyak aset yang tidak bagus,” tambahnya.

Wahyu memaparkan, strategi umum dari aset-aset kripto adalah melawan dolar AS. Uang dolar AS akan makin turun nilainya dan membutuhkan aset lindung nilai atau alternatif. Saat ini, aset-aset kripto juga perlahan menggeser kedudukan emas yang dulunya menjadi andalan.

Seiring dengan sentimen tersebut Wahyu memprediksi, harga aset kripto terbesar di dunia saat ini, Bitcoin masih berpotensi menguat hingga akhir tahun. Menurutnya, Bitcoin akan menguji level tertingginya pada kisaran US$64.000 hingga US$70.000.

Adapun, selain Bitcoin Wahyu juga merekomendasikan untuk mencermati aset Ethereum dengan strategi buy on weakness. Menurutnya, pergerakan aset ini juga masih memiliki potensi upside yang cukup baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper