Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

The Fed Mulai Tapering Off, Bagaimana Dampaknya Terhadap Rupiah?

Analis memperkirakan dampak tapering off kali ini akan terbatas.
Karyawan menghitung mata uang rupiah di salah satu cabang MNC Bank, Jakarta. Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan menghitung mata uang rupiah di salah satu cabang MNC Bank, Jakarta. Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Federal Reserve AS resmi memutuskan melakukan tapering off atau memperlambat laju pembelian asetnya sebagai salah satu langkah dalam mengurangi kebijakan selama pandemi Covid-19. Bagaimana dampaknya terhadap nilai tukar rupiah?

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa hal tersebut tak membawa banyak pengaruh lantaraan keputusan tapering kali ini tidak diikuti dengan kenaikan suku bunga.

“Ini juga terjadi karena ada andil dari krisis energi, yang membuat harga gas alam naik, ini akan membahayakan pemerintah Amerika, karena pemerintah Amerika mesubsidi gas hampir 60 persen, sehingga Bank sentral akan berpikir ulang untuk menaikan suku bunga,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (4/11/2021).

Kedua, PDB Amerika juga turun, sehingga mengindikasikan bahwa memang belum waktunya untuk menaikkan suku bunga.

“Walaupun tadi malam The Fed sudah mengumumkan akan melakukan tapering, tapi pelaku pasar tetap fokus dengan masalah suku bunga,” ujarnya.  

Lalu, apa dampaknya terhadap nilai tukar rupiah? Ibrahim mengatakan, untuk jangka pendek akan berpengaruh pada rupiah. Namun, ini sifatnya sementara.

“Paling 5 hari kerja harga akan terkoreksi kemudian harga akan stabil. Kecuali The Fed mengumumkan akan menaikan suku bunga, ceritanya akan beda lagi,” tambahnya.

Ibrahim memproyeksikan dari langkah tapering off, ke depan indeks dolar AS masih akan menguat ke kisaran 94, tapi disebabkan bukan oleh tapering melainkan masalah krisis energi.

Untuk mata uang Garuda pun masih ada harapan akan menguat, meskipun hari ini dan kemarin mengalami pelemahan ke Rp14.300-an.

“Tapi setelah mengetahui bank sentral tidak akan menaikan suku bunga, pelemahan rupiah akan terbatas,” tambahnya.

Adapun, di tengah krisis energi, pelemahan rupiah justru dinantikan oleh para perusahaan komoditas energi seperti batu bara.

“Pelemahan urupiah bikin untung, terlebih karena kontribusi Indonesia dalam memasok komoditas energi yang lagi naik seperti batu bara, nikel, timah, dan CPO besar. Jadi Bank Indonesia pun melakukan pembiaran. Karena semakin melemah mata uang rupiah, harga komoditasnya jadi lebih mahal dan akhirnya makin menguntungkan,” imbuhnya.

Untuk perkiraan pergerakan rupiah, Ibrahim memproyeksikan rupiah bahkan bisa menguat segera pada Jumat (5/11/2021) besok.

“Misalnya besok menguat, mungkin di Rp14.300-an – atau di Rp14.290. Resistennya di Rp14.320. karena pelemahannya hari ini terbatas,” paparnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper