Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Selain Bentoel, Ini Daftar Perusahaan yang Lakukan Delisting Sukarela

Sejumlah perusahaan tercatat pernah melakukan delisting sukarela dari Bursa Efek Indonesia.
Annisa Saumi
Annisa Saumi - Bisnis.com 28 September 2021  |  17:06 WIB
Karyawan beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawan beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten produsen rokok Dunhill dan Lucky Strike, PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA), berencana untuk keluar dari Bursa Efek Indonesia (BEI) secara sukarela atau delisting, setelah mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Selasa, 28 September 2021.

Manajemen Bentoel memilih melakukan delisting sukarela karena melihat saham RMBA relatif tidak likuid. British American Tobacco (BAT), selaku pengendali Bentoel akan membeli sisa saham publik di level Rp1.000 per saham.

Sebagaimana diketahui, Bentoel bukan emiten pertama yang mengajukan delisting secara sukarela. Sebelumnya, beberapa perusahaan juga melakukan opsi go private sukarela dari BEI, berikut daftarnya.

1. PT Danayasa Arthatama Tbk. (SCBD)

Pengelola kawasan Sudirman Central Business District atau SCBD, PT Danayasa Arthatama, melakukan go private tahun lalu. SCBD menjadi emiten pertama yang secara sukarela melakukan delisting pada 2020.

Harga penawaran per saham SCBD dalam tender offer dua kali lipat lebih tinggi, yakni Rp5.565 per saham, dari harga saham SCBD sebelum digembok bursa di level Rp2.700.

2. PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk. (SOBI)

Perusahaan produsen sorbitol ini angkat kaki dari bursa, karena kesulitan memenuhi peraturan free float saham dari bursa. Saat itu, SOBI hanya menyebar 1,32 persen sahamnya ke publik.

Selain itu, akibat sedikitnya jumlah saham yang beredar, perdagangan saham perseroan cenderung tidak likuid.

SOBI pun memberikan harga penawaran sebesar Rp4.250 per saham. Jumlah ini 150 persen lebih tinggi dari harga perdagangan tertinggi dalam jangka waktu 90 hari sebelum pengumuman go private. Saham SOBI terakhir kali ditutup pada level Rp1.700 per lembar.

3. PT Alfa Retailindo Tbk. (ALFA)

Pengelola supermarket Carrefour ini memilih melakukan go private karena rendahnya likuiditas dan minimnya pemegang saham publik. Saat itu, hanya 0,46 persen saham yang beredar merupakan saham publik.

Selain itu, keputusan go private juga dipilih karena induk usaha perseroan telah menjadi perusahaan terbuka di Bursa Eropa.

ALFA memberikan harga penawaran sebesar Rp4.500 per saham. Harga ini lebih tinggi 87,5 persen dari harga perdagangan tertinggi ALFA di BEI dalam 90 hari terakhir.

4. PT Aqua Golden Mississippi Tbk. (AQUA)

Produsen air minum Aqua memutuskan untuk go private dengan melakukan delisting secara sukarela di bursa. Pemegang saham mayoritas Aqua PT Tirta Investama membeli 5,44 persen saham atau setara 716.387 saham dengan harga tender offer Rp500.000 per saham.

Total dana yang dikeluarkan perseroan mencapai Rp358,19 miliar untuk menyelesaikan proses delisting ini.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia aqua delisting scbd
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top